KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah yang terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini menjadi tantangan berat yang mesti dihadapi oleh emiten-emiten yang menanggung beban kewajiban dalam mata uang asing.
Mengutip Bloomberg, kurs rupiah di pasar spot terkoreksi 0,41% ke level Rp 17.105 per saham pada Selasa (7/4/2026). Beberapa emiten memiliki riwayat utang dalam denominasi mata uang asing, terutama dolar AS. Padahal, pendapatannya diperoleh dalam mata uang rupiah. Salah satu emiten yang masuk kategori tersebut adalah PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Mengutip laporan keuangan, TBIG memiliki liabilitas dalam kurs dolar AS sebesar US$ 762,80 juta atau setara Rp 12,80 triliun pada akhir 2025. Direktur Keuangan Tower Bersama Infrastructure (TBIG) Helmy Yusman mengatakan, pihaknya sudah mengantisipasi pelemahan kurs rupiah dengan acara lindung nilai (hedging), baik terhadap fluktuasi kurs maupun volatilitas suku bunga acuan. Baca Juga: Gurita Bisnis Grup Djarum: Cermati Rekomendasi Saham dan Prospeknya "Jadi pelemahan kurs saat ini tidak memiliki dampak apapun terhadap laporan keuangan maupun arus kas dari TBIG," kata dia, Selasa (7/4/2026). Emiten lainnya, PT Astra International Tbk (ASII) memiliki liabilitas bersih dalam mata uang asing sebesar US$ 263,36 juta atau setara Rp 4,66 triliun pada 2025. Head of Corporate Communications Astra International Windy Riswantyo mengatakan, pada dasarnya ASII senantiasa mengelola struktur pendanaan secara prudent dengan mempertimbangkan keseimbangan antara mata uang rupiah dan dolar AS. "Terkait kewajiban dalam mata uang asing, perusahaan juga menerapkan kebijakan lindung nilai serta secara selektif memanfaatkan eksposur alami dari pendapatan dalam dolar AS pada beberapa lini bisnis," ungkap dia, Selasa (7/4/2026). Pihak ASII menilai bahwa volatilitas nilai tukar masih berada dalam rentang yang dapat dikelola dan belum memberikan dampak yang material terhadap operasional maupun kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Secara terpisah, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Sekolah Saham Indonesia Raden Bagus Bima mengatakan, pelemahan kurs hingga ke level Rp 17.000 per dolar AS jelas memberikan tekanan nyata bagi emiten yang memiliki utang berdenominasi dolar AS sedangkan pendapatannya berbasis rupiah. Dampaknya langsung tercermin pada kenaikan beban bunga dan potensi rugi selisih kurs yang dapat menekan kinerja laba bersih. Dalam beberapa kasus, kondisi seperti ini bisa menggerus ekuitas emiten jika eksposur kewajibannya dalam dolar AS cukup besar. "Saham-saham ini umumnya terlihat pada sektor konstruksi, properti, infrastruktur non-berbasis dolar, transportasi, hingga sebagian manufaktur domestik yang tidak memiliki kesiapan hedging," ungkap dia, Selasa (7/4/2026). Menurut Raden, posisi kurs yang di atas Rp 17.000 per dolar AS sebenarnya masih bisa dikelola oleh sebagian emiten, namun level ini jelas sudah masuk fase yang perlu diwaspadai serius mengingat volatilitas kurs sudah berlangsung cukup lama. Risiko akan semakin meningkat jika pelemahan berlangsung tajam dan berkepanjangan, terutama bagi emiten dengan rasio utang valas tinggi dan arus kas yang terbatas. "Di titik ini, kualitas manajemen risiko menjadi sangat menentukan apakah tekanan kurs hanya berdampak sementara atau mulai mengganggu kinerja secara fundamental," jelas dia. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menambahkan, di atas kertas emiten yang memiliki pendapatan ekspor dalam dolar AS yang kuat dampaknya relatif lebih ringan ketika menghadapi tantangan volatilitas rupiah. Namun, bagi emiten yang biaya pengeluarannya dalam kurs dolar AS sementara pendapatannya rupiah, maka ruang gerak mereka akan menyempit. Ditambah lagi, kurs rupiah sekarang sudah melewati asumsi kurs APBN 2026 di level Rp 16.500 per dolar AS. Pandangan Ekky, efisiensi di segala lini saja tidak cukup bagi emiten dalam menangkal efek pelemahan rupiah yang begitu dalam. Pihak emiten tetap perlu kombinasi atas hedging, penyesuaian struktur utang, penggunaan bahan baku lokal bila memungkinkan, dan penyesuaian harga secara bertahap. "Jadi perusahaan yang paling aman adalah yang punya natural hedge, pricing power, dan disiplin biaya," imbuh Ekky, Selasa (7/4/2026). Raden menyebut, penyesuaian harga jual dapat menjadi opsi bagi emiten yang memiliki daya tawar tinggi di pasar. Namun, upaya ini harus dilakukan secara selektif dan hati-hati agar tidak mengganggu permintaan. Baca Juga: Begini Rekomendasi Saham Indocement (INTP) yang Dibayangi Oversupply Upaya untuk perbaikan keuangan perlu komitmen yang kuat dari jajaran manajemen emiten, apa lagi jika perubahan dilakukan saat kondisi pasar sedang tidak normal. Lebih lanjut, Raden menyarankan investor agar selektif memilih saham. Dalam hal ini, investor harus mencermati secara hati-hati saham dengan missmatch valas besar dan tanpa mitigasi yang cukup berpotensi mengalami tekanan kinerja. Sebaliknya, emiten yang masih memiliki fundamental kuat, kemampuan menjaga margin, dan manajemen risiko yang disiplin tetap layak dipertimbangkan oleh investor. Di samping itu, investor juga bisa melakukan rotasi ke sektor berbasis ekspor atau komoditas serta memiliki potensi dividen cukup besar. Ekky juga menyarankan investor untuk menghindari dulu emiten yang terlalu bergantung pada impor dan belum memiliki kemampuan pass-through harga produk atau jasa yang baik. Di sisi lain, emiten yang punya pendapatan dolar AS, basis ekspor, atau natural hedge kuat seperti emiten tambang relatif masih lebih aman untuk dicermati. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News