KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan sepanjang pekan ini dan mencatat pelemahan hingga ke level terendah baru. Pada perdagangan spot Jumat (15/5/2026), rupiah ditutup di posisi Rp 17.597 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,39% dibanding hari sebelumnya. Bahkan, intraday sempat menyentuh Rp 17.602 per dolar AS. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik.
Dari global, inflasi tahunan AS yang mencapai 3,8%, tertinggi sejak pertengahan 2023, mendorong ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat, sehingga memperkuat indeks dolar dan menekan mata uang negara berkembang.
Baca Juga: Sentuh Level Terendah Sepanjang Sejarah, Begini Prospek Rupiah ke Depan "Inflasi AS masih tinggi dan itu menguatkan dolar," ujar Ibrahim. Kondisi ini membuat aset berbasis dolar semakin menarik, sehingga arus modal global cenderung mengalir ke AS dan meninggalkan pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dari dalam negeri, sentimen negatif juga datang dari kekhawatiran perlambatan sektor manufaktur, ketidakpastian kebijakan royalti tambang, serta persepsi risiko fiskal. Selain itu, perhatian pasar turut tersita oleh respons politik terkait pelemahan rupiah, termasuk teguran Presiden Prabowo Subianto kepada Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menambahkan, kenaikan harga minyak dunia turut memperbesar tekanan terhadap rupiah karena berpotensi meningkatkan inflasi, beban subsidi energi, hingga kebutuhan dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Pecah Rekor Terburuk di Rp 17.529, Safe Haven Kembali Diburu Investor "Tekanan global dan domestik membuat rupiah semakin rentan," kata Josua. Di sisi lain, hasil lelang Surat Berharga Negara (SBN) terbaru juga menunjukkan permintaan terlemah dalam lebih dari satu tahun terakhir. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya persepsi risiko terhadap aset Indonesia, yang pada akhirnya mendorong investor meminta imbal hasil lebih tinggi dan memperkuat tekanan pada rupiah. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News