Rupiah Terpukul Sentimen Global, Bisa Uji ke Rp17.000 dalam Jangka Pendek



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hampir mendekati level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini (4/3/2026).  ​

Di pasar spot, rupiah dibuka melemah pada perdagangan Rabu (4/3/2026) pagi. Pukul 09.11 WIB, rupiah spot ada di level Rp 16.922 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,29% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.872 per dolar AS.

Hingga tengah hari ini pun, rupiah terus melemah 0,35% ke Rp 16.931 per dolar AS.


Baca Juga: Terus Melemah, Rupiah Makin Dekat ke Rp 17.000 Per Dolar AS di Siang Ini (4/3)

Terkait hal ini, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, menilai, pelemahan rupiah saat ini terutama dipengaruhi eskalasi geopolitik global yang memicu sentimen risk-off di pasar keuangan.

“Dalam situasi seperti ini, investor global cenderung memindahkan portofolio ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan US Treasury,” ujar Rizal kepada Kontan, Rabu (4/3/2026).

Kondisi tersebut membuat permintaan dolar meningkat sehingga mata uang emerging markets, termasuk rupiah, berada dalam tekanan. 

Selain itu, ekspektasi kenaikan inflasi global akibat lonjakan harga energi juga ikut memperkua posisi dolar AS.

Dari sisi domestik, Rizal menambahkan, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari faktor struktural. 

Beberapa di antaranya kebutuhan impor energi yang tinggi, repatriasi dividen investor asing, serta potensi arus keluar modal portofolio dari pasar saham dan obligasi ketika ketidakpastian global meningkat.

Baca Juga: Produksi LNG Qatar Terhenti, Kawasan Asia Terancam Krisis Energi

Ke depan, Rizal memandang pergerakan rupiah masih sangat bergantung pada dinamika eksternal tersebut.

Jika ketegangan geopolitik terus memanas dan harga minyak bertahan tinggi, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut.

Hal ini karena Indonesia masih berstatus net importer energi, sehingga kenaikan harga minyak akan meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor.

“Dalam skenario tersebut, tidak tertutup kemungkinan rupiah dapat menguji bahkan menembus level psikologis Rp 17.000 per dolar AS dalam jangka pendek, terutama bila volatilitas global meningkat,” jelasnya.

Risiko tambahan juga datang dari arah suku bunga global. Jika suku bunga negara maju tetap tinggi dan dolar AS terus menguat, arus modal berpotensi kembali mengalir ke pasar keuangan negara maju.

Baca Juga: Nilai Tokenisasi Properti Melalui Blockchain Diprediksi Tembus US$ 4 Triliun di 2035

Meski begitu, Rizal melihat masih ada sejumlah faktor yang dapat menahan bahkan mendorong penguatan rupiah.

Pertama, intervensi kebijakan moneter dan stabilisasi pasar oleh Bank Indonesia, baik melalui operasi pasar spot, DNDF, maupun pengelolaan likuiditas valas.

Kedua, perbaikan kinerja neraca perdagangan yang masih ditopang oleh ekspor komoditas seperti batu bara, CPO, dan nikel dapat membantu menjaga pasokan devisa.

Ketiga, apabila inflasi domestik tetap terkendali dan imbal hasil obligasi pemerintah masih menarik, arus modal portofolio berpeluang kembali masuk ke pasar keuangan domestik.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Rizal memperkirakan rupiah pada semester I 2026 akan bergerak dalam rentang Rp 16.500 - Rp 17.100 per dolar AS.

“Volatilitas masih akan cukup tinggi karena pergerakan rupiah sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News