Rupiah tersengat virus corona dan melemah ke Rp 13.612 per dolar AS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah memulai pekan ini dengan pelemahan. Mengutip Bloomberg, Senin (27/1), pukul 09.34 WIB rupiah di pasar spot kembali ke level Rp 13.612 per dolar Amerika Serikat (AS). 

Posisi ini membuat mata uang Garuda turun 30 poin atau melemah 0,21% di banding penutupan akhir pekan lalu di Rp 13.583 per dolar AS.

Pelemahan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia. Di mana won Korea menjadi mata uang paling lemah di hadapan the greenback setelah turun 0,83%.


Baca Juga: Menguat 0,45% di sepanjang pekan lalu, vitamin rupiah berasal dari foreign inflows

Di susul baht Thailand melemah 0,39%, dolar Singapura turun 0,32% dan dolar Taiwan terkoreksi 0,28%.

Selanjutnya ada peso Filipina melemah 0,23% dan rupee India turun 0,08% dan dolar Hong Kong melemah 0,03%.

Sementara yuan China menjadi mata uang paling kuat setelah naik 0,46%. Setali tiga uang yen Jepang naik 0,36% dan ringgit Malaysia melemah 0,26%.

Pelemahan rupiah mengakhiri penguatan rupiah yang selama tiga hari berturut-turut terhadap dolar. Koreksi terjadi sejalan dengan kenaikan risiko di pasar emerging market khususnya Asia setelah jumlah kematian dan kasus penularan virus corona meningkat tajam.

Baca Juga: Ini alasan emiten terbitkan obligasi global berdenominasi dolar AS

Pasar keuangan di sejumlah negara di kawasan pun cenderung sepi karena masih ditutup untuk libur Tahun Baru Imlek.

Walau terkoreksi rupiah masih menjadi mata uang paling kuat di Asia sepanjang tahun ini. Ini membuat Fitch merevisi proyeksi rupiah dengan rata-rata pergerakan sepanjang 2020 berada di Rp 13.650 per dolar AS. Posisi ini jauh lebih kuat dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada di level Rp 14.500 per dolar AS.

Alasan Fitch Solutions, pemerintah berhasil menjalankan reformasi kebijakan sehingga mampu menarik lebih banyak investasi asing. Selain itu, Indonesia dianggap berhasil mempersempit defisit transaksi berjalan.

Tetapi langkah Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuan juga membuat spread yield antara Surat Utang Negara (SUN) dan US Treasury menipis dan dapat menghambat aliran dana ke pasar obligasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari