Rupiah Tertekan Aksi Jual Asing, Simak Proyeksi Kurs Besok



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih dibayangi tekanan eksternal dan aksi jual investor asing. Meski dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury berbalik turun setelah rilis data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan, rupiah justru masih melemah pada perdagangan Kamis (15/10/2026).

Melansir data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,19% secara harian di level Rp 17.938 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Rupiah menjadi mata uang terlemah ketiga diantara mata uang Asia yang lain. 

Sementara kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatatkan pelemahan rupiah sebesar 0,28% dari posisi hari sebelumnya di Rp 17.898 per dolar AS menjadi Rp 17.948 per dolar AS.


Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mencermati, kondisi pelemahan tersebut mencerminkan sentimen pasar terhadap rupiah yang masih lemah.

“Tekanan risk-off di pasar domestik serta berlanjutnya aksi jual bersih (net sell) investor asing turut membebani pergerakan mata uang Garuda,” jelas Lukman kepada Kontan, Kamis (15/10/2026).

Baca Juga: Rupiah Kian Dekati Rp 18.000, Ini Deretan Mata Uang Alternatif Selain Dolar AS

Lebih lanjut, untuk perdagangan rupiah pada akhir pekan ini, pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi produsen atau Producer Price Index (PPI) AS pada Kamis malam.

Sementara itu, tidak ada rilis data ekonomi domestik yang menjadi katalis utama bagi pergerakan rupiah.

Di sisi lain, sentimen risk-off global yang berkaitan dengan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Untuk perdagangan Jumat (16/10/2026), Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp 17.900-Rp 18.000 per dolar AS.

Baca Juga: Inflasi AS hingga Geopolitik Tekan Rupiah, Kurs Dekati Rp 18.000 Per Dolar AS

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News