Rupiah Tertekan, Asing Makin Selektif Pilih Saham di Tengah Risiko Kurs



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perubahan strategi intervensi Bank Indonesia (BI) dalam menghadapi tekanan rupiah turut menjadi perhatian investor saham.

Namun, dampak pelemahan rupiah tidak akan dirasakan secara merata oleh seluruh emiten, terutama ketika risiko kurs berhadapan dengan tingginya imbal hasil global dan potensi suku bunga domestik bertahan tinggi.

Untuk diketahui, Gubernur BI Destry Damayanti, menyatakan BI mengurangi intervensi di pasar spot untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, karena langkah tersebut dinilai lebih banyak menguras cadangan devisa (cadev).


Baca Juga: Strategi Intervensi BI Berubah, Cermati Dampaknya ke SBN dan SRBI?

Saat ini, porsi intervensi di pasar spot kini hanya sekitar 30% dari total intervensi BI.

Pun, BI lebih banyak melakukan intervensi melalui pasar kontrak berjangka valuta asing, seperti domestic non-deliverable forward (DNDF) dan non-deliverable forward (NDF).

Data BI hingga 28 September menunjukkan perbedaan yang sangat jelas. Outflow saham mencapai sekitar Rp 7,1 triliun, tetapi keluar bersih sekitar Rp 62,1 triliun dari saham sepanjang tahun.

Kondisi ini kontras dengan aliran dana asing ke SBN sebesar Rp 27,5 triliun dan SRBI sekitar Rp 165,6 triliun.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpandangan, perubahan instrumen intervensi BI pada dasarnya bukan menjadi faktor negatif bagi pasar saham.

Menurut dia, apabila strategi intervensi BI melalui NDF dan DNDF mampu meredam volatilitas rupiah, kondisi tersebut justru dapat memberikan sentimen positif bagi pasar saham. Stabilitas rupiah akan mengurangi risiko kurs yang harus diperhitungkan investor asing.

Baca Juga: Kepemilikan BI Kian Dominan di SBN, Asing Justru Switching ke SRBI

Sebaliknya, apabila rupiah terus melemah meski BI meningkatkan penggunaan instrumen derivatif, investor asing dapat melihat risiko aset berdenominasi rupiah masih tinggi. Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan tekanan jual di pasar saham.

“Yang menentukan adalah apakah strategi tersebut mampu menstabilkan rupiah. Jika berhasil, justru positif karena risiko kurs investor asing berkurang dan kebutuhan BI menaikkan suku bunga secara agresif dapat ditekan,” ujar Josua kepada Kontan, Rabu (30/9/2026).

Josua melihat perbedaan aliran dana asing antara saham, SBN dan SRBI menunjukkan investor saat ini tidak serta-merta meninggalkan seluruh aset berdenominasi rupiah.