KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah sentimen global dan domestik masih akan mewarnai pergerakan pasar keuangan pada pekan awal bulan Mei ini. Mulai dari kebijakan produksi minyak, arah suku bunga bank sentral, hingga kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Berdasarkan riset Syailendra Weekly Update, dipaparkan salah satu sentimen berasal dari tujuh negara dalam aliansi OPEC+ yang menyepakati kenaikan kuota produksi minyak sekitar 188.000 barel per hari (bpd) pada Juni 2026. Namun, langkah ini dibayangi keputusan Uni Emirat Arab yang resmi keluar dari OPEC mulai 1 Mei 2026 guna meningkatkan produksi tanpa terikat kuota.
Baca Juga: IHSG Melonjak 1,2% ke 7.041,2 di Pagi Ini (4/5), Top Gainers LQ45: BRPT, INKP, CPIN Dari sisi kebijakan moneter global, Federal Reserve kembali mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,5%–3,75%. Kebijakan ini diambil di tengah inflasi yang masih relatif tinggi di atas 3%. Selain itu, terjadi pergantian kepemimpinan di bank sentral AS. Jerome Powell resmi mengakhiri masa jabatannya dan digantikan oleh Kevin Warsh, yang dihadapkan pada tantangan menjaga independensi kebijakan moneter serta mengendalikan inflasi. Sementara itu, lembaga pemeringkat S&P Global Ratings memperkirakan adanya perbaikan pendapatan negara Indonesia pada kuartal I-2026. Kondisi ini dinilai dapat menjaga defisit fiskal tetap di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB), didukung langkah efisiensi anggaran (khususnya dari MBG). Untuk keseluruhan 2026, S&P memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 5% secara tahunan. "Lalu pada 2026, nilai tukar rupiah diperkirakan S&P berada di kisaran Rp 16.850 per dolar Amerika Serikat, dengan inflasi berpotensi naik ke 3,2% seiring peningkatan biaya input," tulis riset tersebut, Senin (4/5/2026).
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat ke Rp 17.330 Per Dolar AS Hari Ini (4/5), Asia Bervariasi Di sisi lain, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) diproyeksikan masih berpotensi naik sekitar 50 basis poin (bps) sepanjang tahun ini. Dari pasar keuangan domestik, imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) terus meningkat hingga mencapai 6,21% pada lelang terakhir. Kenaikan ini merupakan bagian dari strategi BI untuk menarik minat investor asing. Langkah tersebut diharapkan dapat menopang nilai tukar rupiah yang dalam sebulan terakhir melemah ke level Rp 17.350 per dolar AS atau turun sekitar 2,5%.
Sepekan ke depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun global. Dari dalam negeri, ada rilis data manufaktur neraca perdagangan (PMI Balance od Trade), inflasi, serta
update pertumbuhan ekonomi seperti PDB, akan menjadi perhatian utama. Sementara itu, dari Amerika Serikat, pasar akan menanti data ketenagakerjaan seperti
non-farm payrolls, unemployment rate, serta klaim pengangguran lanjutan yang dapat memberikan petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News