Rupiah Tertekan di Rp 17.861, Ini Ramalan Kurs Jelang Suksesi Gubernur BI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Suksesi Gubernur Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu sentimen penggerak rupiah.

Asal tahu saja, suksesi gubernur BI menjadi sorotan setelah adanya pencalonan Destry Damayanti sebagai pengganti Perry Warjiyo. 

Kemarin, Senin (10/8/2026), rupiah ditutup menguat 0,8% ke Rp 17.755 per dolar Amerika Serikat (AS). Sayangnya, nilai tukar rupiah di pasar spot terus tertekan hingga perdagangan tengah hari ini. 


Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.861 Per Dolar AS Hari Ini (11/8), Asia Tertekan

Selasa (11/8/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.861 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,60% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.755 per dolar AS.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menyebut, penguatan rupiah empat sesi beruntun memang didorong sentimen positif dari kepastian nama Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI yang diusulkan Presiden Prabowo Subianto.

“Pasar menyambut nama Destry secara positif hingga memicu penguatan nilai tukar rupiah, namun momentum ini masih rentan berbalik karena sifatnya lebih pada kelegaan pasar ketimbang perbaikan fundamental,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (11/8/2026).

Untuk proyeksi akhir tahun 2026, pergerakan rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp17.900–Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS).

Sentimen yang masih berpotensi menekan rupiah ke depan cukup beragam. Faktor paling dominan dalam beberapa pekan ke depan, adalah perkembangan harga minyak dan keamanan Selat Hormuz, di mana setiap gangguan baru yang mendorong minyak menuju atau melampaui US$100 per barel akan meningkatkan perkiraan impor energi, subsidi, inflasi, dan defisit transaksi berjalan Indonesia.

“Di luar itu, ketidakpastian arah suku bunga The Fed, disiplin fiskal domestik, serta proses konfirmasi Destry di DPR yang belum final turut menjadi variabel yang bisa membalikkan sentimen positif saat ini menjadi tekanan baru,” ungkapnya.

Bagi investor, dalam kondisi ketidakpastian geopolitik dan kebijakan suku bunga global yang masih tinggi seperti sekarang, dolar AS secara historis tetap menjadi pilihan pairing yang relatif diminati sebagai aset lindung nilai jangka pendek terhadap rupiah. Hal ini mengingat premi risiko dari konflik Timur Tengah belum sepenuhnya mereda. 

Baca Juga: Bukan Sekadar Jual Aset, Ini Alasan Petrosea (PTRO) di Balik Transaksi KMS

Di sisi lain, mata uang kawasan yang dianggap lebih stabil seperti dolar Singapura (SGD) kerap dilirik sebagai diversifikasi regional. Sementara, emas tetap menjadi pelengkap klasik bagi investor yang ingin mengurangi eksposur langsung terhadap volatilitas pasangan mata uang. 

“Pada akhirnya, pilihan terbaik sangat bergantung pada horizon waktu dan toleransi risiko masing-masing investor, sehingga ada baiknya berkonsultasi lebih lanjut dengan penasihat keuangan sebelum mengambil posisi,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News