KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan rupiah terhadap dolar Singapura (SGD) dan ringgit Malaysia (MYR) mencerminkan perbedaan fundamental ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Di tengah tekanan terhadap mata uang domestik, kedua mata uang negara tetangga tersebut berpotensi melanjutkan penguatan hingga akhir 2026.
Founder Traderindo Wahyu Laksono menilai, pelemahan rupiah terhadap SGD dan MYR dipengaruhi kombinasi faktor domestik Indonesia dan ketahanan fundamental ekonomi Singapura serta Malaysia. Berdasarkan data pergerakan kurs selama setahun terakhir, Wahyu bilang pasangan SGD/IDR telah menembus level rekor tertinggi di Rp 14.145,2, naik dari kisaran Rp 12.800 pada akhir 2025. Sementara itu, MYR/IDR berada di level Rp 4.426,6, menguat dari sekitar Rp 3.920 setahun sebelumnya.
Baca Juga: Bos BRMS Agoes Projosasmito Borong 5,5 Juta Saham, Harga Saham Masih Melemah "Pelemahan rupiah terhadap SGD dan MYR merupakan hasil kombinasi antara kerentanan domestik Indonesia yang membesar dan keunggulan struktural fundamental Singapura serta Malaysia," kata Wahyu kepada Kontan, Jumat (23/10/2026). Wahyu bilang Singapura menerapkan kebijakan moneter berbasis nilai tukar melalui keranjang mata uang mitra dagang (S$NEER). Otoritas Moneter Singapura (MAS) secara konsisten mempertahankan kemiringan apresiasi atau
appreciation slope untuk membendung lonjakan inflasi barang impor. Mekanisme ini secara otomatis membuat SGD memiliki daya tahan paling tangguh dan menguat secara struktural terhadap mata uang mitra dagang yang mengalami inflasi lebih tinggi atau depresiasi, termasuk rupiah. Semntara itu, Malaysia menikmati lonjakan investasi langsung asing (FDI) yang sangat masif di sektor pusat data, rantai pasok kecerdasan buatan (AI), dan semikonduktor. Ditambah lagi, Bank Negara Malaysia (BNM) mengoordinasikan repatriasi dan konversi devisa secara agresif dari perusahaan-perusahaan pelat merah (GLCs dan GLICs). Arus modal masuk riil ini mendongkrak penguatan Ringgit secara neto terhadap Dolar AS, yang kemudian terefleksi pada lonjakan tajam kurs silang MYR/IDR. Di sisi internal, rupiah terbebani oleh normalisasi surplus neraca perdagangan seiring melandainya harga komoditas ekspor primer seperti batu bara dan kelapa sawit. Kondisi ini diperberat oleh tingginya permintaan valas untuk belanja impor bahan baku, energi, dan pembiayaan program prioritas pemerintah baru, serta sentimen kehati-hatian investor asing dan pelarian modal asing akibat dinamika pasar modal seperti isu kriteria likuiditas indeks MSCI.
Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Melemah 0,11% ke Rp 18.080 per Dolar AS pada Jumat (23/10) Akibatnya, ketika SGD dan MYR mampu menahan atau bahkan menguat terhadap dolar AS, rupiah justru terdepresiasi lebih dalam, sehingga nilai tukarnya anjlok signifikan terhadap kedua valuta asing tersebut. Di tengah tekanan terhadap rupiah, Wahyu menilai dolar Singapura dan ringgit Malaysia memiliki karakteristik berbeda sebagai instrumen diversifikasi investasi. SGD berfungsi sebagai aset lindung nilai terbaik di Asia Tenggara. Didukung oleh cadangan devisa yang sangat masif, peringkat utang triple-A (AAA), serta stabilitas politik dan finansial. Instrumen berdenominasi SGD seperti deposito valas atau obligasi pemerintah Singapura memberikan proteksi modal yang stabil terhadap risiko depresiasi rupiah jangka panjang. Namun, imbal hasil nominal (yield) cenderung lebih rendah dibandingkan produk pasar uang domestik Indonesia, dan potensi kenaikan modalnya lebih bersifat terukur atau low volatility. Adapun ringgit Malaysia dinilai menarik untuk strategi investasi jangka menengah yang lebih taktis. Prospek pertumbuhan ekonomi dan arus investasi asing ke sektor teknologi dapat menjadi katalis bagi penguatan MYR. Meski demikian, investor perlu mencermati volatilitas ringgit. Pergerakan MYR dapat berbalik arah apabila harga komoditas melemah, arus modal asing melambat, atau sentimen pasar global memburuk. Wahyu juga membandingkannya dengan mata uang Asia lain. Yen Jepang (JPY) dinilai tidak disarankan sebagai instrumen defensif pasif karena selisih bunga riil yang lebar antara The Fed dan Bank of Japan terus menekan Yen di dekat level 158–160 per dolar AS. JPY hanya cocok untuk trading spekulatif.
Baca Juga: Sido Muncul (SIDO) Bagikan Dividen Interim Rp 300 Miliar, Cek Jadwalnya Sementara Won Korea (KRW) dinilai sangat siklikal karena bergantung pada pasar saham semikonduktor global, sehingga kurang ideal sebagai lindung nilai portofolio ritel. Wahyu memperkirakan rupiah masih berpeluang melemah terbatas (
mild depreciation) terhadap SGD dan MYR hingga akhir tahun. Selama suku bunga AS bertahan tinggi (
higher-for-longer) dan kebutuhan devisa korporasi meningkat menjelang akhir tahun, Bank Indonesia diperkirakan lebih memprioritaskan stabilitas volatilitas harian ketimbang mempertahankan level tertentu secara kaku. Dari struktur tren teknikal, SGD/IDR menunjukkan tren
bullish continuation setelah menembus puncak konsolidasi di kisaran Rp 14.100. Pasangan ini diproyeksikan bergerak di rentang Rp 13.800–Rp 14.500 hingga akhir 2026. Level Rp 14.000 kini menjadi support baru, disusul Rp 13.700. Resistansi berikutnya berada di Rp 14.300–Rp 14.500, yang berpotensi diuji jika tekanan pada rupiah spot berlanjut mendekati Rp 18.200 per dolar AS.
Sementara itu, MYR/IDR tengah
rebound mendekati
resistance puncak tahunan di Rp 4.500–Rp 4.520, level yang dicapai pada pertengahan 2026. Rentang proyeksi hingga akhir tahun adalah Rp 4.200–Rp 4.600, dengan
support di Rp 4.280 hingga Rp 4.000 dan
resistance kuat di Rp 4.520–Rp 4.650.
Baca Juga: Bitcoin Bertahan di Atas US$ 80.000 Sebulan Terakhir, Cermati Risiko Koreksi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News