Rupiah Tertekan Imbas Kebuntuan AS–Iran, Ini Strategi Investor Hadapi Volatilitas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu ketidakpastian global yang berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah. 

Melansir data Bloomberg, Senin (13/4/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.105 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah tipis 0,006% dibanding penutupan Jumat (10/4/2026) yang berada di level Rp 17.104 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) naik 0,28% menjadi 98,92.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menilai kondisi pasar saat ini didominasi oleh sentimen risk-off sehingga menjaga modal menjadi prioritas utama bagi investor.


Baca Juga: Pangsa Pasar Tergeser Pasar EV, Begini Rekomendasi Saham Astra (ASII)

“Dalam situasi penuh ketidakpastian, strategi menjaga modal atau capital preservation menjadi kunci,” ujar Sutopo kepada Kontan, Senin (13/4/2026).

Ia menyarankan investor mencermati sejumlah indikator domestik, seperti data penjualan ritel untuk mengukur daya tahan konsumsi di tengah tekanan eksternal.

Selain itu, pelaku pasar juga perlu memperhatikan arah kebijakan suku bunga, terutama potensi pengetatan lebih lanjut guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Menurut Sutopo, pergerakan harga minyak mentah akan menjadi indikator penting karena berpengaruh langsung terhadap risiko inflasi global.

Dalam kondisi ini, investor disarankan mengalokasikan portofolio pada aset yang diuntungkan dari kenaikan harga komoditas, serta instrumen pendapatan tetap jangka pendek dengan imbal hasil riil yang menarik.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah Tipis ke Rp 17.105 Per Dolar AS Hari Ini (13/4), Asia Turun

Di sisi lain, pelaku usaha dinilai perlu melakukan lindung nilai (hedging) untuk memitigasi risiko volatilitas nilai tukar yang berpotensi meningkat.

Sutopo juga mengingatkan agar pelaku pasar menghindari spekulasi berlebihan dan tetap berfokus pada aset dengan fundamental kuat, terutama di tengah siklus suku bunga tinggi yang masih berlangsung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News