KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih melemah pada perdagangan Senin (26/10/2026), meski pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) justru menunjukkan pelemahan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga meningkatnya risiko di pasar keuangan domestik. Mengutip
Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,30% ke level Rp 18.135 per dolar AS pada Senin (26/10/2026), dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 18.080 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) tercatat di level Rp 18.116 per dolar AS, melemah 0,26% dibandingkan posisi Jumat (23/10/2026) di Rp 18.069 per dolar AS.
Baca Juga: Petrosea (PTRO) Beli Kapal Rp 5,46 Miliar dari Perusahaan Afiliasi Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyebut, tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak berasal dari dalam negeri. "Kalau dilihat dari pergerakan hari ini, tekanan terhadap rupiah lebih banyak berasal dari dalam negeri. Indeks dolar AS justru melemah ke kisaran 101,6 dan yuan menguat ke level tertinggi dalam empat tahun, tetapi rupiah tetap tertekan. Ini menunjukkan ada premi risiko khusus Indonesia yang sedang meningkat," ujar Yusuf kepada Kontan, Senin (26/10/2026). Menurut Yusuf, meningkatnya premi risiko tersebut tidak terlepas dari arus keluar dana asing yang masih berlanjut setelah gejolak terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI). Tekanan ini tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun sekitar 1% pada sesi pertama perdagangan Senin, disertai aksi jual bersih investor asing sebesar Rp 1,14 triliun. Arus keluar dana asing menjadi salah satu faktor yang membebani rupiah karena dapat meningkatkan tekanan di pasar valuta asing. Ketika investor melepas aset domestik dan menarik dananya, permintaan terhadap mata uang asing berpotensi meningkat sehingga memperbesar tekanan terhadap nilai tukar. Selain perkembangan terkait MSCI, pergerakan harga minyak dunia juga perlu dicermati. Harga minyak yang masih berada di atas US$ 100 per barel di tengah ketegangan di Timur Tengah berpotensi meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor bahan bakar minyak (BBM). Yusuf menyebut, pergerakan rupiah ke depan akan dipengaruhi oleh arus modal asing, harga minyak dunia, ekspektasi suku bunga The Fed, serta respons Bank Indonesia dan komunikasi kebijakan pemerintah. "Ada empat hal yang perlu dicermati. Pertama, pergerakan dana asing di pasar saham dan obligasi, terutama yang berkaitan dengan perkembangan konsultasi MSCI. Kedua, harga minyak dan situasi di Timur Tengah. Ketiga, ekspektasi pasar menjelang rapat FOMC, termasuk data keyakinan konsumen AS yang dapat memengaruhi perkiraan arah suku bunga The Fed. Keempat, respons Bank Indonesia dan komunikasi kebijakan pemerintah," jelasnya.
Baca Juga: Harga Minyak WTI & Brent Kompak Turun Lebih dari 2%, Harga WTI Bisa Jatuh ke US$ 95 Untuk perdagangan Selasa (27/10/2026), Yusuf memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 18.080-Rp 18.200 per dolar AS dengan kecenderungan melemah terbatas. Level Rp 18.200 menjadi batas psikologis penting karena mendekati titik terlemah rupiah tahun ini. Pelemahan rupiah yang jauh melampaui level tersebut dalam satu hari dinilai relatif terbatas, kecuali terjadi tekanan eksternal yang lebih besar atau arus keluar modal asing semakin deras. Di sekitar level itu, Bank Indonesia diperkirakan berpotensi meningkatkan langkah stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News