KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melemah di tengah meningkatnya ketidakpastian global setelah negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal mencapai kesepakatan. Berdasarkan data
Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,13% ke level Rp 17.127 per dolar AS pada Selasa (14/4/2026). Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia berada di posisi Rp 17.135 per dolar AS. Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai konflik geopolitik di Timur Tengah masih menjadi sentimen utama yang menekan rupiah
ia menjelaskan, sejumlah negara sekutu NATO seperti Inggris dan Prancis memilih menahan diri untuk tidak terlibat dalam blokade dan justru mendorong pembukaan kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Reda, Bahlil Harap Kapal Pertamina Bisa Melintas di Selat Hormuz "Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, dan Badan Energi Internasional mendesak negara-negara untuk menghindari penimbunan pasokan energi atau memberlakukan pembatasan ekspor di tengah apa yang mereka gambarkan sebagai guncangan paling signifikan yang pernah terjadi di pasar energi global," ujar Ibrahim pada Selasa (14/4/2026). Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi sikap
wait and see pelaku usaha. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian dalam mengambil keputusan ekspansi di tengah tingginya ketidakpastian. Pelaku usaha cenderung menunda ekspansi besar yang bersifat padat modal dan lebih fokus pada efisiensi serta optimalisasi operasional. Alokasi investasi pun mulai bergeser ke sektor yang lebih tahan terhadap gejolak, seperti pangan, energi, dan digital. Sejumlah faktor yang memengaruhi keputusan tersebut antara lain ketidakpastian geopolitik global, volatilitas harga energi dan logistik, tekanan nilai tukar, melemahnya permintaan global, serta tingginya biaya pembiayaan.
Baca Juga: Menakar Efek Perang Timur Tengah ke Industri Alas Kaki Nasional Kombinasi ini membuat perhitungan risiko dan imbal hasil investasi menjadi lebih ketat. Dari sisi penjualan, kinerja bisnis diperkirakan masih cenderung stagnan dalam jangka pendek. Namun, ada peluang perbaikan pada semester II-2026, dengan catatan tidak terjadi eskalasi lanjutan konflik global. Konsumsi domestik tetap menjadi penopang utama, meski daya beli masyarakat perlu dijaga. Untuk mendorong ekspansi, pelaku usaha membutuhkan kepastian dan stabilitas kebijakan. Hal ini mencakup konsistensi regulasi, insentif fiskal, kemudahan investasi, serta menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.100, Konflik Timur Tengah Picu Tekanan Selain itu, percepatan belanja pemerintah dan deregulasi di sektor riil seperti logistik dan perizinan dinilai penting untuk meningkatkan daya saing. Ibrahim memproyeksikan rupiah pada perdagangan Rabu (15/3) akan bergerak fluktuatif di rentang Rp. 17.120 hingga Rp.17.170 per dolar AS. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News