KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pelemahan rupiah sejauh ini belum berdampak signifikan terhadap kualitas kredit korporasi perbankan. Hingga Januari 2026, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) kredit korporasi masih terjaga di level rendah, di tengah pertumbuhan penyaluran kredit yang tetap solid. OJK mencatat, hingga Januari 2026, kredit korporasi tumbuh 16,07% dengan rasio NPL tetap terjaga di level 1,24%, didorong oleh membaiknya penyaluran kredit di sektor konstruksi, pertanian dan keuangan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan, kondisi industri perbankan sampai Januari 2026 masih menunjukkan kinerja yang baik. Hal ini antara lain tercermin dari posisi devisa neto (PDN) industri yang berada di level 1,16%, jauh di bawah ambang batas 20%. “Hingga posisi Januari 2026, industri perbankan tercatat memiliki kinerja yang baik, tercermin dari Posisi Devisa Neto (PDN) berada pada level 1,16%, jauh di bawah ambang batas 20%. Ini dapat dimaknai bahwa eksposur langsung bank terhadap risiko nilai tukar relatif kecil,” ujar Dian dalam jawaban tertulisnya, dikutip Minggu (15/3/2026).
Baca Juga: Korporasi Masih Menumpuk Dana di Perbankan, Pengusaha Menahan Ekspansi? Ia menambahkan, pelemahan nilai tukar rupiah tidak serta-merta memberi tekanan langsung yang besar terhadap neraca bank. Pasalnya, kredit valuta asing umumnya disalurkan ke debitur yang memiliki basis penerimaan valas, terutama pelaku usaha berbasis ekspor, sehingga secara alami telah memiliki lindung nilai atau naturally hedged. “Dari sisi kredit valas, umumnya kredit yang diberikan dalam valas merupakan produk atau kegiatan berbasis ekspor yang juga memiliki basis penerimaan dalam bentuk valas (naturally hedged),” katanya. Dian juga menyoroti posisi PDN bank yang berada pada posisi long. Menurut dia, kondisi ini membuat eksposur langsung bank dalam bentuk valuta asing, baik dari sisi kredit maupun surat berharga, justru dapat meningkatkan nilai aset bank saat rupiah terdepresiasi. Di tengah kondisi tersebut, pertumbuhan kredit valas juga tercatat masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valas. OJK mencatat, kredit valas tumbuh 8,1% secara tahunan, sedangkan DPK valas tumbuh 6,5% secara tahunan. Meski demikian, rasio loan to deposit ratio (LDR) valas turun menjadi 81,8% pada Januari 2026, dari 84,4% pada Desember 2025. OJK mengakui, ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik yang meningkat tetap perlu diwaspadai karena berpotensi meningkatkan risiko kredit. Pelemahan rupiah dapat mendorong kenaikan biaya input, yang kemudian menekan laba perusahaan dan kemampuan bayar debitur, terutama bagi korporasi yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor atau kewajiban dalam valuta asing. Namun, menurut Dian, potensi pemburukan kualitas kredit tersebut telah diantisipasi perbankan melalui pembentukan pencadangan yang memadai serta dukungan permodalan yang kuat. “Depresiasi rupiah dapat menyebabkan kenaikan biaya input sehingga memengaruhi laba perusahaan dan kemampuan membayar debitur. Namun demikian, hal ini sudah diantisipasi oleh perbankan melalui pembentukan pencadangan yang cukup,” ujarnya.
Baca Juga: Tren Korporasi Beralih ke Obligasi, Bank Tetap Optimistis Kredit Modal Kerja Tumbuh Untuk menjaga kualitas kredit di tengah gejolak nilai tukar, OJK mendorong perbankan memperkuat manajemen risiko. Langkah itu dilakukan antara lain melalui pemantauan dan evaluasi eksposur portofolio secara intensif, pelaksanaan stress test dengan berbagai skenario, hingga penerapan strategi bisnis yang lebih selektif dan prudent. “Bank didorong untuk menerapkan manajemen risiko yang kuat antara lain dengan melakukan pemantauan dan evaluasi eksposur portofolio secara intensif,” kata Dian. Selain itu, OJK juga mewajibkan bank membentuk tambahan modal di atas persyaratan minimum sesuai profil risiko masing-masing. Buffer tersebut disiapkan sebagai penyangga jika terjadi krisis keuangan dan ekonomi yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan, termasuk akibat volatilitas nilai tukar. Dari sisi pelaku industri, PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) juga menyatakan pelemahan rupiah belum memberi tekanan berarti terhadap kualitas kredit korporasinya. Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie mengatakan, bank terus memantau dinamika nilai tukar dan dampaknya terhadap kemampuan bayar debitur, khususnya pada segmen korporasi yang memiliki eksposur mata uang asing. “Hingga saat ini, pelemahan rupiah belum memberikan dampak yang signifikan terhadap kualitas kredit korporasi Bank, mengingat porsi pinjaman dalam valuta asing relatif tidak besar dibandingkan dengan total portofolio kredit,” ujar Kunardy.
Baca Juga: Kredit Korporasi dan Komersial Bank Syariah Tumbuh Subur pada 2025 Ia menyebut, secara keseluruhan kualitas aset KB Bank masih terjaga. Per Desember 2025, rasio NPL pada portofolio kredit investasi tercatat sekitar 1%. Menurut dia, capaian ini mencerminkan profil risiko debitur yang relatif kuat serta penerapan manajemen risiko yang prudent. Adapun dari sisi penyaluran, kredit investasi KB Bank menunjukkan tren positif dengan porsi sekitar 27% dari total portofolio kredit. Pertumbuhan itu terutama ditopang oleh pembiayaan pada segmen wholesale, khususnya di sektor pertambangan, transportasi, telekomunikasi, real estate, dan jasa keuangan. “Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan pembiayaan pada segmen wholesale, dengan fokus pada sektor-sektor strategis seperti pertambangan, transportasi, telekomunikasi, real estate, dan jasa keuangan,” ungkap Kunardy.
Untuk menjaga kualitas aset, KB Bank juga memanfaatkan skema kredit sindikasi sebagai bagian dari strategi pengelolaan eksposur risiko. Selain itu, bank melakukan pemantauan berkala terhadap kondisi keuangan debitur, termasuk sensitivitasnya terhadap pergerakan nilai tukar. Ke depan, KB Bank memastikan akan tetap menjalankan strategi pertumbuhan kredit secara selektif dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian, penguatan manajemen risiko, serta fokus pada penurunan Loan at Risk (LAR) agar kualitas aset tetap terjaga di tengah dinamika pasar.
Baca Juga: Permintaan Masih Lesu, Pertumbuhan Kredit Korporasi Tertahan di Akhir Tahun Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News