Rupiah Tertekan, Pasar Menanti Sinyal BI di Tengah Penguatan Dolar AS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan Selasa (22/9/2026), seiring perhatian pelaku pasar terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Rabu (23/9/2026), yang dinilai akan menjadi salah satu penentu arah rupiah dalam jangka pendek.

Di pasar spot, rupiah ditutup pada level Rp 17.884 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (22/9/2026), melemah 0,21% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.847 per dolar AS.

Sejalan, rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup di level Rp 17.883 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,39% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.813 per dolar AS.


Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Melemah 0,21% ke Rp 17.884 per Dolar AS pada Selasa (22/9/2026)

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan mengatakan, pelemahan rupiah masih lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal.

Salah satunya adalah dolar AS yang tetap kuat setelah The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00%. Saat ini indeks dolar AS (DXY) di level 100,4, menguat 0,8% sepekan terakhir.

"Fed juga masih membuka ruang kenaikan suku bunga tambahan tahun ini, sehingga ekspektasi higher for longer masih menjaga DXY di sekitar level 100," ujar Brahmantya kepada Kontan, Selasa (22/9/2026).

Pergerakan harga minyak dan risiko geopolitik turut menjadi sentimen yang menekan rupiah. Menurut Brahmantya, posisi Indonesia sebagai net importir minyak membuat rupiah cukup sensitif terhadap kenaikan harga energi.

Harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor, menekan neraca eksternal, serta meningkatkan risiko imported inflation. 

Dari dalam negeri, perhatian pasar kini tertuju pada RDG BI yang berlangsung pada Rabu (23/9).

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.868 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (22/9), Terlemah di Asia

BI-Rate saat ini berada di level 5,75%. Brahmantya bilang pasar akan mencermati apakah BI mempertahankan suku bunga atau memberikan sinyal kebijakan yang lebih hawkish untuk menjaga stabilitas rupiah.

Di sisi lain, komitmen pemerintah menjaga defisit APBN 2026 sekitar 2,85% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dinilai menjadi sentimen positif bagi kepercayaan investor terhadap aset domestik.

"Namun dalam jangka pendek, sentimen tersebut belum cukup kuat untuk sepenuhnya mengimbangi tekanan dolar dan kondisi global," kata Brahmantya.

Untuk perdagangan Rabu (23/9), Brahmantya melihat rupiah masih memiliki bias melemah.

Skenario dasar (base case) Brahmantya adalah BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75%.

Jika BI menahan suku bunga tetapi memberikan komunikasi yang tegas terkait stabilisasi rupiah, termasuk kesiapan melakukan intervensi di pasar valuta asing dan obligasi, rupiah berpeluang stabil atau mengalami penguatan terbatas.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.885, Won Korea Menguat 1,08% pada Selasa (22/9)

Sebaliknya, jika komunikasi BI dinilai terlalu dovish ketika The Fed masih mempertahankan sikap hawkish, tekanan terhadap rupiah dapat kembali meningkat. Kondisi tersebut berpotensi mempersempit selisih suku bunga Indonesia dan AS.

Untuk perdagangan Rabu (23/9), Brahmantya memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 17.650-Rp 18.200 per dolar AS. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News