KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah bank besar memastikan kualitas aset tetap terjaga di tengah tekanan global dan pelemahan nilai tukar rupiah. Namun jika dilihat dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio kredit bermasalah (
non-performing loan/NPL) perbankan pada Februari 2026 berada di level 2,17%, naik dari bulan sebelumnya di level 2,14% dan di dari Desember 2025 di level 2,05%. Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai kenaikan NPL saat ini masih dalam level terkendali, dengan potensi peningkatan tidak lebih dari 20 basis poin.
“Tekanan dari nilai tukar dan kenaikan biaya impor sudah mulai terasa, tapi untuk lonjakan NPL masih terbatas,” ujarnya kepada kontan.co.id, Jumat (24/4).
Baca Juga: Emas Makin Dilirik Jadi Instrumen Strategis Dana Haji di Tengah Ketidakpastian Global Menurutnya, risiko tersebut masih dapat diredam selama pemerintah mampu menjaga stabilitas harga melalui kebijakan fiskal, termasuk peran APBN sebagai shock absorber. Namun demikian, Myrdal mengingatkan potensi tekanan gagal bayar tetap perlu diwaspadai, terutama pada sektor-sektor yang terdampak imported inflation dan kenaikan biaya logistik. Beberapa sektor yang dinilai rentan antara lain akomodasi, perhotelan, transportasi, serta manufaktur yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor. Selain itu, kebijakan efisiensi anggaran pemerintah juga berpotensi menekan kinerja sektor-sektor tertentu. Dalam menghadapi kondisi ini, perbankan diperkirakan akan semakin berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Bank juga akan memperkuat manajemen risiko, termasuk melalui pelaksanaan
stress test secara berkala untuk mengantisipasi berbagai skenario tekanan ekonomi. “Bank pasti akan lebih selektif dalam menyalurkan pinjaman dan terus melakukan
stress test terkait dampak nilai tukar maupun
imported inflation,” jelasnya. Dari sisi perbankan, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan mengungkapkan, secara keseluruhan kualitas aset bank masih cukup baik dengan NPL di kisaran 1,8%–1,9%. Meski demikian, ia mengakui permintaan kredit masih lemah di hampir seluruh segmen, termasuk korporasi. Oleh karena itu, CIMB Niaga memilih lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit dan fokus pada nasabah existing. “Fokus kami memastikan
sustainability kinerja dengan tetap prudent dalam penyaluran kredit,” ujarnya.
Baca Juga: Incar Pertumbuhan Kinerja di 2026, Begini Strategi Wulandari Bangun Laksana (BSK) Hal senada juga dilakukan PT Bank Mandiri Tbk. Direktur Utama Riduan menyebutkan, perseroan mengedepankan strategi pertumbuhan selektif dengan menyalurkan kredit ke sektor yang prospektif dan tahan terhadap tekanan ekonomi. Selain itu, Bank Mandiri juga memperketat monitoring portofolio serta rutin melakukan
stress testing untuk mengantisipasi berbagai risiko. Hingga Maret 2026, kualitas aset tetap solid dengan NPL terjaga di bawah 1% dan
coverage ratio mencapai 245%. Sementara PT Bank Tabungan Negara Tbk menilai, dampak pelemahan rupiah terhadap kualitas kredit relatif terbatas.
Direktur Risk Management Setiyo Wibowo menjelaskan, portofolio BTN didominasi pembiayaan perumahan dan ritel domestik sehingga tidak terlalu sensitif terhadap pergerakan kurs. Menurutnya, sektor yang paling rentan terhadap pelemahan rupiah adalah industri berbasis impor seperti kimia, farmasi, dan manufaktur. Namun, eksposur BTN ke sektor tersebut sangat kecil. BTN pun mengantisipasi risiko melalui pengelolaan portofolio secara dinamis, stress testing berkala,
underwriting yang lebih selektif, serta penguatan sistem peringatan dini berbasis data. Pada kuartal I-2026, NPL BTN berada di level 3,1%, turun dari periode sama tahun sebelumnya di 3,3%. Pada 2026, BTN juga menargetkan NPL tetap terjaga di bawah 3%. Adapun, PT Bank Central Asia Tbk memastikan pelemahan rupiah belum berdampak signifikan terhadap kualitas kredit. Wakil Presiden Direktur John Kosasih menyebut, eksposur kredit valas perseroan hanya sekitar 4,9% dari total portofolio. Dengan komposisi tersebut, risiko akibat fluktuasi nilai tukar dinilai masih terbatas. Bahkan, bagi debitur berorientasi ekspor, pelemahan rupiah justru memberikan keuntungan. “Kalau eksportir, pelemahan rupiah bisa menjadi positif,” ujarnya. Ke depan, BCA menegaskan akan terus memperkuat monitoring portofolio kredit serta menjaga komunikasi intensif dengan nasabah guna mengantisipasi potensi risiko dari volatilitas global, termasuk gejolak geopolitik dan fluktuasi nilai tukar.
Dengan strategi tersebut, perseroan optimistis kualitas aset tetap terjaga di tengah dinamika pasar keuangan global. Per kuartal I-2026 NPL gross BCA berada di level 1,8%, turun dari 2% di periode sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Incar Pertumbuhan Kinerja di 2026, Begini Strategi Wulandari Bangun Laksana (BSK) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News