Rupiah Tertekan Repricing Global, Pasar Uji Kredibilitas Respon BI di RDG



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan mata uang Garuda makin melandai hingga rentan menguji level psikologis baru seiring berlanjutnya penyesuaian harga pasar global dan peningkatan premi risiko di pasar keuangan berkembang.

Merujuk pada data Bloomberg pada Selasa (22/9/2026), nilai tukar rupiah di pasar spot bertengger di level Rp 17.884 per dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah berada di posisi Rp 17.883 per dolar AS, tercatat melemah 0,39% jika dibandingkan dengan posisi hari sebelumnya pada Rp 17.813 per dolar AS.

Pelemahan rupiah yang kembali membayangi kisaran Rp 17.900 per dolar AS menandakan adanya tekanan struktural akibat repricing global pasca kenaikan suku bunga acuan The Fed, tingginya imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun di dekat 5%, serta lonjakan harga minyak mentah dunia di kisaran US$100 per barel.


Baca Juga: Elektrifikasi Armada Jadi Strategi, Simak Prospek Saham BIRD dan WEHA

Kombinasi faktor eksternal tersebut memacu peningkatan risk premium aset emerging markets, yang tercermin dari kenaikan indikator Credit Default Swap (CDS) Indonesia 5 tahun ke level sekitar 86 bps.

Di saat bersamaan, pergerakan Indeks Dolar AS (DXY) di kisaran 100,3 tergolong relatif stabil. Hal ini mengindikasikan bahwa pelemahan mata uang domestik tak semata-mata didorong oleh keperkasaan dolar AS, melainkan dipengaruhi oleh tingginya daya tarik relatif aset-aset dolar serta pergeseran arus modal portofolio.

Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menilai dinamika pasar saat ini menempatkan otoritas moneter pada posisi yang cukup menantang.

"Dari domestik, pasar sedang menguji kredibilitas respons BI ketika ruang kebijakan semakin sempit: menjaga rupiah membutuhkan stance ketat, sementara ekonomi domestik tetap membutuhkan likuiditas dan biaya dana yang terjaga," ujar Rizal kepada Kontan, Selasa (22/9/2026).

Menjelang keputusan RDG BI pada 22–23 September 2026, pasar berharap Bank Indonesia dapat memberikan sinyal yang tegas bahwa penstabilan nilai tukar tetap menjadi prioritas utama.

Penjagaan daya tarik aset rupiah dapat ditempuh melalui efektivitas operasi moneter serta penguatan triple intervention di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), pasar sekunder SBN, hingga pasar NDF offshore.

Menurut Rizal, opsi mempertahankan BI-Rate di level 5,75% yang dibarengi dengan intervensi terukur di pasar masih menjadi langkah proporsional untuk saat ini.

"Namun, jika Rp 18.000 ditembus secara persisten disertai capital outflow, opsi pengetatan suku bunga harus tetap terbuka," kata Rizal.

Tekanan kemungkinan bertahan selama kombinasi The Fed hawkish, yield AS tinggi, dan risiko minyak belum mereda.

Rizal memproyeksikan, dalam jangka pendek, Rp 18.000 per dolar AS menjadi level psikologis yang sangat penting. Jika ditembus secara persisten, ruang pelemahan dapat bergeser ke kisaran Rp 18.200–Rp 18.500 per dolar AS.

Sampai akhir 2026, arah rupiah akan sangat ditentukan oleh trajektori suku bunga AS, minyak, arus modal, serta konsistensi stabilisasi BI.

Baca Juga: Rupiah Dekati Rp 17.900 Menjelang RDG BI, Cek Proyeksi dan Benteng Stabilisasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News