KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (6/2/2026). Mengutip
Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,20% secara harian ke Rp 16.876 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah telah melemah 0,53% dari posisinya di level Rp 16.786 per dolar AS pada Jumat (30/1/2026). Senada, berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,36% secara harian ke Rp 16.887 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah melemah 0,54% dari posisinya di level Rp 16.796 per dolar AS pada Jumat (30/1/2026).
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah sepekan ini dipengaruhi berbagai faktor. Di antaranya terkait pergantian kepemimpinan The Fed.
Baca Juga: Outflow Asing Jadi Pemberat, Rupiah Masih Berisiko Tertekan di Awal Pekan Presiden AS Donald Trump menominasikan mantan gubernur Federal Reserve Kevin Warsh sebagai ketua bank sentral berikutnya. Meskipun nominasi tersebut menghilangkan poin ketidakpastian utama bagi pasar, mengurangi permintaan aset aman, Warsh juga dipandang sebagai pilihan yang kurang lunak daripada yang diharapkan pasar. “Para pedagang menurunkan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed setelah The Fed memutuskan suku bunga tidak berubah pada pertemuannya di bulan Januari dan penunjukan Warsh oleh Presiden Trump,” ujar Ibrahim kepada Kontan, Jumat (6/2/2026). Kemudian rupiah juga dipengaruhi data pertumbuhan ekonomi. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 sebesar 5,11% secara tahunan (YoY). Berdasarkan estimasi median (median estimate) dari perkiraan para ekonom dan analis yang dihimpun
Bloomberg, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tahun lalu yakni sebesar 5,1% jelas berada di bawah target APBN yakni 5,2%.
Baca Juga: 20 Bus Transjabodetabek Rute Blok M–Bandara Soetta Mulai Beroperasi Pekan Depan Selain itu, rupiah juga dipengaruhi posisi cadangan devisa Indonesia yang menurun pada Januari 2026, mencapai US$ 154,6 miliar, atau lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai US$ 156,5 miliar. Ibrahim memproyeksikan rupiah dalam sepekan kedepan bergerak direntang Rp 16.750 – Rp 17.200 per dolar AS. Research and Development ICDX, Taufan Dimas Hareva memperkirakan rupiah dalam sepekan ke depan bergerak dalam rentang Rp 16.750 – Rp 16.950 per dolar AS. Menurutnya, ruang penguatan relatif terbatas tanpa katalis global yang kuat, sementara tekanan pelemahan masih tertahan oleh stabilisasi aliran modal domestik dan sikap kehati-hatian pelaku pasar. “Pergerakan rupiah cenderung fluktuatif mengikuti dinamika dolar AS dan sentimen risiko global, bukan tren satu arah yang tegas,” ujar Taufan.
Baca Juga: Pekan Depan, Purbaya Bakal Mutasi Minimal 70 Pegawai Pajak yang Masuk Radar Taufan melihat sentimen yang perlu dicermati dalam sepekan ke depan terutama berasal dari arah dolar AS, khususnya respons pasar terhadap data ekonomi Amerika Serikat dan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed. Jika data AS kembali solid dan memperkuat pandangan “higher for longer”, tekanan ke rupiah berpotensi meningkat. Dari sisi global, perkembangan geopolitik dan pergerakan imbal hasil US Treasury juga menjadi faktor kunci yang memengaruhi minat risiko investor.
“Sementara dari domestik, pelaku pasar akan mencermati stabilitas pasar keuangan, respons Bank Indonesia di pasar valas, serta arus dana asing di pasar obligasi dan saham sebagai penyeimbang tekanan eksternal,” terang Taufan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News