KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih dibayangi tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal November 2026. Tak hanya melemah terhadap greenback, kinerja mata uang Garuda juga tertinggal dibandingkan sejumlah mata uang utama Asia sepanjang tahun ini. Berdasarkan data
Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,05% ke level Rp 18.156 per dolar AS pada perdagangan Senin (2/11/2026). Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) tercatat sebesar Rp 18.161 per dolar AS, melemah 0,13% dibandingkan posisi Jumat (30/10/2026) di level Rp 18.138 per dolar AS. Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengatakan, tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari perkembangan global, terutama ekspektasi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar masih mencermati data inflasi Amerika Serikat, termasuk Personal Consumption Expenditures (PCE), yang dapat memengaruhi keputusan bank sentral tersebut.
Baca Juga: Ini Penyebab Laba Chandra Asri (TPIA) Turun: Ada Efek Negatif Goodwill Akuisisi Aster "Faktor risiko geopolitik serta ketidakpastian pasar keuangan global turut menjaga volatilitas tetap tinggi, mendorong pelaku pasar global memegang aset yang dianggap aman (safe haven), utamanya dolar AS," ujar Rahma kepada Kontan, Senin (2/11/2026). Tekanan juga datang dari dalam negeri. Meningkatnya preferensi masyarakat dan korporasi untuk memegang dolar AS sebagai lindung nilai berpotensi memperketat likuiditas valuta asing di pasar domestik. Selain itu, arus keluar modal asing dari pasar saham dan obligasi turut mengurangi pasokan valas. Rahma bilang, pasar keuangan Indonesia yang relatif lebih kecil dan sensitif terhadap perpindahan modal asing membuat rupiah lebih mudah tertekan ketika investor global mengurangi eksposur terhadap aset domestik. "Ketika imbal hasil aset AS menarik, tekanan keluar pada pasar SBN dan saham domestik langsung berdampak besar pada suplai valas di dalam negeri," jelasnya. Asal tahu saja, Singapura ditopang pasar keuangan yang lebih dalam dan kebijakan moneter berbasis nilai tukar, sedangkan China dan Korea Selatan memiliki basis manufaktur serta ekspor kuat. Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI mengandalkan intervensi triple intervention, pembelian SBN di pasar sekunder, serta instrumen moneter pro-market. Senada, Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi beranggapan, pelemahan rupiah tidak semata-mata mencerminkan penguatan dolar AS. Menurutnya, terdapat premi risiko terhadap aset Indonesia yang turut membebani nilai tukar rupiah. Hal tersebut terlihat ketika rupiah masih tertekan meskipun indeks dolar AS (DXY) melemah. Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (2/11/2026) pukul 17.55 WIB, DXY berada di level 101,71 atau terkoreksi 0,16%. "Rupiah melemah meski dolar tidak sedang menguat secara luas. Artinya, pasar sedang menambahkan premi risiko Indonesia di atas faktor global," kata Syafruddin. Syafruddin bilang, sentimen
risk-off akibat koreksi saham teknologi, ketidakpastian politik AS menjelang pemilu sela, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, serta harga minyak yang masih tinggi turut menekan rupiah. Dari dalam negeri, arus keluar modal asing di pasar saham dan obligasi, imbal hasil SBN yang tinggi, serta kebutuhan valas korporasi juga menjadi faktor pembebani.
Baca Juga: Tak Hanya Perusahaan Besar, BEI Kini Bidik UMKM untuk Melantai di Bursa Tekanan rupiah tersebut berbanding terbalik dengan pergerakan sejumlah mata uang Asia. Hingga 2 November 2026, Syafruddin mencatat rupiah telah terdepresiasi sekitar 8,8% secara YtD. Pada periode yang sama, yuan China menguat sekitar 5%, won Korea Selatan menguat 6,9%, dan dolar Singapura menguat 0,5%. Adapun yen Jepang melemah sekitar 0,8% terhadap dolar AS. Syafruddin menyebut, perbedaan kinerja tersebut dipengaruhi oleh kekuatan neraca eksternal, arah kebijakan moneter, dan kredibilitas institusi masing-masing negara. China, misalnya, ditopang surplus perdagangan dan konversi devisa hasil ekspor. Yen berpeluang memperoleh dukungan dari normalisasi kebijakan BoJ, sedangkan won lebih sensitif terhadap siklus teknologi dan perdagangan global. Adapun dolar Singapura relatif defensif berkat kebijakan moneter berbasis nilai tukar dan posisi eksternal yang kuat. "Karena itu, satu faktor global yang sama dapat menghasilkan respons berbeda. Kuncinya bukan hanya suku bunga, tetapi juga kekuatan neraca eksternal, kredibilitas kebijakan, dan kemampuan menyerap shock tanpa memicu outflow besar," ungkapnya. Pada perdagangan Senin (2/11/2026), pergerakan mata uang Asia juga menunjukkan dinamika yang beragam. Mengacu data
Bloomberg pukul 17.55 WIB, yen Jepang menguat 0,23% dengan USD/JPY turun ke 157,92. Won Korea Selatan menguat 0,57% dengan USD/KRW turun ke 1.340,88, sedangkan dolar Singapura menguat 0,10% dengan USD/SGD berada di 1,27. Sebaliknya, yuan China melemah 0,32% dengan USD/CNY naik ke 6,64.
Menjelang akhir tahun, Rahma memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.900-Rp 18.400 per dolar AS. Namun, jika tekanan eksternal meningkat dan arus modal keluar semakin besar, rupiah berisiko menguji level Rp 18.500-Rp 19.000 per dolar AS. Sementara itu, Syafruddin memproyeksikan rupiah berada di sekitar Rp 18.215 per dolar AS hingga akhir 2026, dengan rentang ketidakpastian 80% sebesar Rp 17.772-Rp 18.657 per dolar AS. Ruang penguatan akan terbuka jika arus portofolio kembali masuk, harga minyak turun, dan tekanan global mereda. Sebaliknya, arus keluar modal yang membesar atau kebijakan The Fed yang lebih agresif berpotensi kembali menekan rupiah.
Baca Juga: Oktober Penuh Tekanan, Mayoritas Reksadana Batavia AM Masih Positif Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News