Rupiah Tertekan Tujuh Hari Beruntun, RDG BI Jadi Penentu Pekan Depan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah berpotensi bergerak terbatas pada perdagangan pekan depan. Pelaku pasar akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), di tengah tekanan dari ekspektasi suku bunga domestik dan kenaikan yield US Treasury (UST).

Mengutip data Bloomberg pada Jumat (18/9), rupiah ditutup melemah 0,03% ke level Rp 17.758 per dolar AS dari hari sebelumnya. Ini adalah pelemahan rupiah dalam tujuh sesi berturut-turut. Secara mingguan, rupiah melemah 0,83% dibandingkan posisi Jumat (11/9) yang berada di level Rp 17.611 per dolar AS.

Sementara itu, mengutip kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah di level Rp 17.745 per dolar AS, melemah 0,04% dari posisi hari sebelumnya. Jika dibandingkan dengan perdagangan Jumat pekan lalu yang sebesar Rp 17.611 per dolar AS, rupiah JISDOR secara mingguan tercatat melemah 0,76%.


Baca Juga: IHSG Turun 1,42% Sepanjang Pekan Ini, Bagaimana Proyeksinya Pekan Depan?

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah pada akhir pekan salah satunya dipengaruhi oleh antisipasi pasar terhadap Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang akan berlangsung pekan depan, pada 22-23 September 2026.

“Rupiah ditutup melemah tipis terhadap dolar AS tertekan oleh antisipasi RDG BI minggu depan yang diperkirakan akan menahan tingkat suku bunga,” ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (18/9/2026).

Ekspektasi BI mempertahankan suku bunga acuan menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pelaku pasar. Di sisi lain, kenaikan yield US Treasury juga berpotensi memberikan tekanan terhadap aset berdenominasi rupiah.

Meski demikian, penurunan harga minyak mentah dunia belum mampu memberikan dukungan berarti bagi rupiah. Saat ini harga minyak Brent berada di level US$ 103 per barel atau melemah 0,45% secara harian.

"Penurunan harga minyak mentah dunia yang cukup besar tidak banyak mendukung rupiah," kata Lukman.

Untuk perdagangan pekan depan, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak pada rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.900 per dolar AS.

Baca Juga: XLSMART (EXCL) Pasang Strategi Demi Hadapi Era Suku Bunga Tinggi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News