KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada awal pekan. Pelaku pasar akan mencermati perkembangan geopolitik global, arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed), serta ekspektasi keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI). Terbaru, nilai tukar rupiah melanjutkan pelemahan di hari perdagangan ketujuh berturut-turut. Jumat (18/9), kurs rupiah spot melemah Rp 5 atau 0,03% menjadi Rp 17.758 per dolar Amerika Serikat (AS). Sedikit berbeda, kurs rupiah Jisdor menguat tipis Rp 8 atau 0,05% menjadi Rp 17.745 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan salah satu sentimen utama yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah perkembangan geopolitik. Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali menjadi perhatian pasar, dengan dinamika yang bergeser dari Selat Hormuz menuju Laut Merah dan Selat Al-Mandeb.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Tertekan Pekan Depan, Pasar Tunggu Keputusan BI "Yang pertama adalah faktor geopolitik. Yang kedua adalah kebijakan politik di Amerika pasca menantikan pemilu sela di bulan November. Kemudian, kebijakan Bank Sentral Amerika," ujar Ibrahim, Minggu (20/9/2026). Menurut dia, ketegangan geopolitik di kawasan tersebut semakin meningkat. Ia menyoroti perkembangan di sekitar Selat Al-Mandeb serta meningkatnya aktivitas diplomatik China. Menteri Luar Negeri China Wang Yi disebut telah mendesak Washington dan Teheran untuk menahan diri serta membuka kembali Selat Hormuz. Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan konsultasi dengan pejabat China dan Pakistan. Selain geopolitik, Ibrahim menyoroti dinamika politik domestik AS menjelang pemilu sela (midterm election) pada November. Menurut dia, meningkatnya ketegangan politik antara Partai Republik dan Partai Demokrat dapat menambah ketidakpastian di pasar keuangan.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Kembali Tertekan Pekan Depan, Ini Sentimennya Dari sisi kebijakan moneter AS, pasar juga masih mencermati arah suku bunga The Fed. Ibrahim melihat masih terdapat peluang kenaikan suku bunga The Fed lanjutan hingga akhir tahun. Ia menyebut, dari 18 anggota yang memberikan proyeksi, sebanyak 16 anggota menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Dengan demikian, terdapat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir Desember. Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, melihat pergerakan rupiah pada Senin depan turut dipengaruhi oleh antisipasi pasar terhadap Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada pekan depan, yang dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September 2026.
Untuk perdagangan Senin (21/9/2026), Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak konsolidatif di kisaran Rp 17.700-Rp 17.800 per dolar AS. Senada, Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada awal pekan dengan kecenderungan berada di rentang Rp 17.750-Rp 17.800 per dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Tujuh Hari Beruntun, RDG BI Jadi Penentu Pekan Depan Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News