Rupiah Tertekan Usai Perry Warjiyo Mundur, Rupiah Berpotensi Tembus Rp 18.000



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berpotensi menghadapi tekanan setelah Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya. Pergantian kepemimpinan di bank sentral disebut dapat menambah ketidakpastian di pasar.

Melansir data Bloomberg, pada Senin (27/7/2026) dalam perdagangan intraday pukul 12.06 WIB, mata uang Garuda bertengger di level Rp 17.989 per dolar AS atau melemah 0,14% dibanding sehari sebelumnya. Pada Jumat (24/7), rupiah ditutup melemah 0,15% ke level Rp 17.963 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pengunduran diri Perry Warjiyo menjadi sentimen baru yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah. 


Baca Juga: Tender Wajib Indah Prakasa (INPS) Sepi Peminat, Graha Inti Hanya Serap 5.000 Saham

Pasalnya, siapa pun yang nantinya memimpin BI akan menghadapi tantangan berat untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global dan domestik. 

"Kita lihat bahwa siapapun yang memimpin Bank Indonesia saat ini sangat sulit untuk membuat Rupiah kembali lagi mengalami penguatan. Kenapa? Karena masalah geopolitik, ya perekonomian di dalam negeri pun juga sedang calut-marut. Ini yang membuat rupiah kembali mengalami pelemahan," ujar Ibrahim, Senin (27/7/2026).

Menurut dia, Perry Warjiyo selama ini telah bekerja keras untuk menjaga stabilitas rupiah. Oleh karena itu, pengunduran diri Gubernur BI tersebut menjadi perhatian bagi pasar.

Ibrahim menilai, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor domestik. Kondisi geopolitik global yang masih bergejolak juga menjadi salah satu faktor utama yang membuat mata uang Garuda sulit menguat.

Konflik di Timur Tengah serta perang Rusia dan Ukraina masih menciptakan ketidakpastian di pasar global. Kondisi tersebut berpotensi mendorong investor untuk mengalihkan dana ke aset safe haven, termasuk dolar Amerika Serikat (AS).

Di dalam negeri, tekanan juga datang dari kondisi fiskal. Ibrahim menilai sejumlah program pemerintah dengan kebutuhan anggaran besar, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih, turut menjadi tantangan bagi kekuatan fiskal nasional.

Ibrahim mengatakan, pemerintah memang memiliki keinginan untuk membawa rupiah kembali menguat. Namun, kondisi saat ini membuat target tersebut tidak mudah dicapai.

Baca Juga: IBOS Buka Gerai Pertama Segafredo Caffè di Bandara Soetta, Siap Perluas Jaringan

"Keinginan pemerintah itu saat ini ingin rupiah harus kembali menguat ke Rp 16.500 per dolar AS. Tetapi kita lihat bahwa apa yang terjadi saat ini tidak serta-merta bisa membuat rupiah mengalami penguatan," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News