Rupiah terus lesu, harga barang bisa naik 10%



JAKARTA. Peritel kelas menegah mengharapkan pemerintah merealisasikan paket kebijakan ekonomi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang kian lesu ini. Pasalnya, jika ekonomi terus lesu diiringi dengan pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) maka akan berdampak pada penurunan daya beli konsumen. Ujungnya, penjualan peritel susut.

Arief Istanto, Direktur PT Hero Supermarket Tbk mengatakan, perusahaan sebagai peritel yang menjualkan barang kepada konsumen menunggu kepastian dari para pemasok sebagai pemasok barang. Asumsinya, jika rupiah terus melemah terhadap dolar AS maka supplier akan menaikan harga barang. "Dampaknya konsumen pasti mengurangi jumlah pembelian yang berdampak bagi penjualan Hero Group," katanya, kepada KONTAN, Selasa (22/9).

Saat ini, para pemasok berencana menaikan harga produknya namun belum ada persentasenya. Jika sudah begini, peritel mengharapkan pemerintah segera mengambil tindakan cepat untuk mendorong ekonomi. Misalnya, bagi Hero Group yang terpenting adalah kemudahan pendirian izin pendirian minimarket baru di berbagai daerah.


Kemudian agar daya beli konsumen tidak susut terus maka pemerintah harus dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi agar tidak turun. Serta, pemerintah harus menyiapkan lapangan kerja baru untuk meningkatkan kebutuhan bahan baku dari dalam negeri sehingga tidak terus bergantung dari produk impor. "Masih ada cara lain untuk mendorong ekonomi," jelasnya.

Satria Hamid, Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo) mengatakan, akan ada potensi kenaikan barang sebesar 10% oleh para peritel karena para pemasok sudah mulai menaikan harga barang. Jika, rupiah melemah hingga level Rp 15.000 per dollar AS maka harga barang akan naik lebih tinggi dari rata-rata 10%.

"Akibatnya, daya beli konsumen akan turun 10% jika rupiah mencapai level Rp 15.000 per dollar AS," jelasnya. Sejak Januari 2015 hingga September 2015 terjadi penurun daya beli konsumen hingga turun 7%. Nah, penurunan daya beli ini terjadi karena konsumen mengurangi pembeli barang dari, membeli barang dengan kapasitas yang lebih kecil, serta membeli barang denga harga yang lebih murah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News