KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih belum mereda dan terus mendorong mata uang Garuda mencetak level terlemah baru. Kondisi ini dinilai mulai membentuk titik keseimbangan (
new equilibrium) rupiah, sehingga peluang kembali menguat ke bawah Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan semakin kecil. Untuk diketahui pada perdagangan spot Jumat (15/5/2026), rupiah ditutup di posisi Rp 17.597 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,39% dibanding hari sebelumnya. Bahkan, intraday sempat menyentuh Rp 17.602 per dolar AS. Pelemahan rupiah terjadi di tengah sejumlah indikator ekonomi domestik yang sebenarnya masih menunjukkan kondisi positif. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat 5,61%, sementara indeks kepercayaan konsumen (IKK) pada April 2026 masih relatif terjaga, yakni di level 123,0.
Baca Juga: Permintaan Logam Mulia Masih Tinggi, Simak Prospek Saham Emiten Produsen Emas Berikut Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, menilai tekanan terhadap rupiah saat ini mencerminkan adanya risiko spesifik (
unique risk) yang dihadapi Indonesia. Menurutnya, pelemahan rupiah tidak sepenuhnya dipicu oleh faktor fundamental ekonomi, melainkan kombinasi sejumlah sentimen negatif yang terjadi secara bersamaan. “Level rupiah saat ini memang angka yang sangat tidak rasional, dan secara psikologis sangat menekan. Pelemahan ini memang terasa paradoks jika kita hanya melihat indikator makro domestik seperti pertumbuhan ekonomi yang solid,” ujar Rahma kepada Kontan, Rabu (13/5/2026). Ia menjelaskan, setiap kuartal II atau periode April hingga Juni, permintaan dolar AS di dalam negeri memang cenderung meningkat akibat repatriasi dividen perusahaan asing serta pembayaran bunga dan pokok utang luar negeri korporasi. Kondisi tersebut membuat kebutuhan dolar meningkat secara musiman sehingga memberi tekanan tambahan terhadap rupiah. Selain faktor musiman, hasil
rebalancing indeks MSCI pada Mei 2026 juga dinilai menjadi sentimen negatif baru. Dikeluarkannya sejumlah 18 saham Indonesia dari indeks MSCI tanpa adanya tambahan emiten baru berpotensi memicu arus keluar modal asing (
capital outflow) dari pasar saham domestik. “Investor asing cenderung melakukan aksi jual untuk menyesuaikan portofolio mereka, yang secara langsung ikut menekan rupiah,” katanya. Rahma menambahkan, tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama setelah kegagalan perundingan gencatan senjata antara AS dan Iran yang memicu kenaikan harga minyak dunia.
Baca Juga: Rupiah Pecah Rekor Terlemah, Outflow Asing dan Sentimen MSCI Jadi Tekanan Kenaikan harga minyak Brent hingga menembus di atas US$ 100 per barel dinilai meningkatkan kekhawatiran terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia sebagai negara net importir energi. Selain itu, beban subsidi energi dalam APBN juga berpotensi membengkak. Hal ini membuat investor global beralih ke aset
safe haven seperti dolar AS, meninggalkan mata uang
emerging markets termasuk rupiah. Di sisi lain, ekspektasi pasar bahwa suku bunga acuan bank sentral AS masih bertahan tinggi lebih lama turut memperkuat dolar AS. Kondisi tersebut membuat aset berdenominasi dolar dinilai lebih menarik dibandingkan aset
emerging markets, termasuk rupiah. Menurut Rahma, pelemahan rupiah saat ini tidak serta-merta menunjukkan hilangnya kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Ia menilai pelaku pasar lebih berfokus pada risiko ke depan dibanding data ekonomi yang bersifat historis. “Pasar sedang rasional terhadap risiko, angka pertumbuhan ekonomi dan indeks kepercayaan konsumen adalah data
lagging (melihat ke belakang). Sementara itu, nilai tukar adalah data
forward-looking (melihat risiko ke depan),” jelasnya. Untuk meredam tekanan rupiah, Rahma mengatakan intervensi Bank Indonesia (BI) melalui pasar spot maupun instrumen
domestic non-deliverable forward (DNDF) sudah dilakukan secara agresif. Namun, menurutnya, langkah moneter saja belum cukup apabila tidak diimbangi penguatan dari sisi fiskal. Ia menekankan pentingnya menjaga konsistensi kebijakan ekonomi, memperkuat pasokan devisa hasil ekspor (DHE), serta membangun komunikasi terpadu antar otoritas melalui koordinasi pemerintah, BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Komunikasi bersama antara otoritas fiskal dan moneter dinilai penting untuk memberikan sinyal kepada investor bahwa penanganan stabilitas ekonomi dilakukan secara terkoordinasi.
Mengenai prospek semester II-2026, Rahma menilai peluang rupiah melemah hingga menembus level Rp 18.000 hingga Rp 20.000 per dolar AS berpotensi terbuka, terutama apabila konflik geopolitik di Timur Tengah semakin memburuk dan mengganggu pasokan energi global. Di sisi lain, Rahma memperkirakan peluang rupiah kembali menguat ke bawah Rp 17.000 per dolar AS hingga akhir tahun relatif kecil. Menurutnya, rupiah saat ini mulai membentuk level keseimbangan baru di sekitar Rp 17.000 per dolar AS. “Ini bukan berarti tidak percaya pada upaya intervensi BI, namun pelemahan rupiah yang cukup liar ini, bukan karena kesalahan BI. BI sudah habis-habisan intervensi, namun jika tidak didukung dengan perbaikan dari sisi fiskal, sampai kapan BI kuat untuk intervensi?" tutup Rahma. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News