KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan rupiah spot terus melemah pada perdagangan Rabu (28/10/2026). Di akhir perdagangan, rupiah spot melemah 0,15% ke level Rp 18.184 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan rupiah turut membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Indeks merosot 1,65% ke level 5.179,06 pada perdagangan sesi I hari ini. Financial Educator Manager Sucor Sekuritas Hendry Wijaya mengatakan, pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor yang dapat menekan pasar saham. Menurutnya, terdapat tiga dampak utama dari pelemahan nilai tukar terhadap pasar saham domestik.
Pertama, imbal hasil investor asing menyusut. Investor asing menghitung untung dan rugi dalam dolar. Ketika rupiah melemah, keuntungan mereka ikut tergerus saat dikonversi kembali ke dolar AS.
Baca Juga: Laba Astra Agro Lestari (AALI) Melonjak 78% hingga Kuartal III 2026, Ini Prospeknya Kedua, biaya dan utang emiten membengkak. Biaya impor naik bagi perusahaan yang bergantung pada bahan baku luar negeri. Emiten dengan utang dolar tapi pendapatan rupiah menanggung beban cicilan yang lebih besar.
Ketiga, ruang turun suku bunga menyempit. Rupiah yang lemah menahan Bank Indonesia untuk memangkas suku bunga acuan. Padahal penurunan bunga biasanya jadi bahan bakar kenaikan saham. Lebih lanjut, Hendry juga menjelaskan pelemahan IHSG tidak semata-mata disebabkan oleh depresiasi rupiah. Tekanan terhadap indeks saham domestik merupakan kombinasi dari beberapa faktor, yakni rupiah yang berada di kisaran Rp 18.180, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang naik ke sekitar 7,5%, dan arus keluar modal asing yang berlanjut. Selain itu, pasar juga tengah menanti keputusan suku bunga The Fed.
Dana Asing Hendry juga menjelaskan rupiah dan dana asing saling memperparah kondisi pasar. Saat ini, akumulasi jual bersih asing tahun ini mencapai sekitar Rp 124,9 triliun di pasar reguler. "Saat asing menjual saham, mereka menukar rupiah ke dolar, sehingga rupiah makin tertekan. Sebaliknya, rupiah yang melemah membuat asing makin enggan bertahan," kata Hendry kepada Kontan, Rabu (28/10/2026). Akan tetapi, risiko terbesar dari pasar saham ke depan adalah MSCI, bukan rupiah. MSCI mengusulkan agar Indonesia diturunkan statusnya dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Dana yang berpotensi keluar diperkirakan mencapai US$ 3– US$ 6 miliar dari dana pasif, dan bisa membengkak hingga US$ 19 miliar jika investor aktif ikut melepas. UBS sendiri memperkirakan sekitar US$ 4 miliar dari dana pasif.
Baca Juga: Pendapatan Tumbuh, IPCM Optimalkan Armada dan Perluas Pasar Dalam jangka sangat pendek, perhatian tertuju pada keputusan The Fed yang dijadwalkan keluar Kamis dini hari WIB, 29 Oktober. Dolar menguat karena pasar mengantisipasi sikap hawkish. Jika The Fed tidak seketat yang ditakutkan, rupiah bisa mendapat ruang bernapas sementara.
Saham-saham yang Berpotensi Tertekan Hendry memaparkan sejumlah saham yang berpotensi tertekan.
Pertama, emiten berbahan baku impor. Ini membuat biaya naik dan margin tergerus. Di sektor farmasi, 85%–95% bahan bakunya masih impor, sementara sektor otomotif bergantung pada komponen impor.
Kedua, emiten dengan utang dolar tanpa lindung nilai. Patokan sederhananya, setiap pelemahan Rp 1.000 per dolar AS menambah nilai utang sekitar Rp 1 triliun untuk setiap US$ 1 miliar utang tanpa hedging.
Ketiga, saham besar yang menjadi incaran jual asing. Ini mencakup sembilan konstituen MSCI Global Standard. Tekanan di sini terjadi karena aliran dana asing, bukan karena fundamental perusahaan memburuk. Sementara itu, saham yang relatif terlindungi adalah eksportir komoditas seperti batu bara, sawit, dan logam dasar. Penjualan perusahaan-perusahaan tersebut dalam dolar, sedangkan sebagian besar biayanya dalam rupiah. Hendry memberikan sejumlah saran bagi investor, antara lain, jangan panik, tetapi jangan juga buru-buru serok bawah.
Baca Juga: Indosat (ISAT) Catat Kinerja Positif hingga Kuartal III 2026 "Valuasi memang sudah murah. Namun, peluang akumulasi lebih besar jika tekanan pada rupiah, pasar obligasi, dan arus keluar modal mulai mereda. Jika ingin membeli, lakukan secara bertahap, jangan sekaligus," tambah Hendry. Kemudian, bedah laporan kuartal III. Cek porsi utang dolar, apakah ada hedging, dan apakah ada rugi kurs. Saham yang turun karena aliran dana berbeda dengan saham yang turun karena labanya memang tergerus.
Utamakan juga perusahaan berneraca kuat. Pilih perusahaan yang utangnya rendah, arus kasnya stabil, dan bisa menaikkan harga jual tanpa kehilangan pembeli. Selanjutnya, investor perlu menyeimbangkan portofolio. Emiten berpendapatan dolar bisa menjadi penyeimbang alami saat rupiah melemah. Terakhir, pantau lima indikator. Indikator tersebut adalah arah rupiah, data
net foreign flow harian, yield SBN 10 tahun, hasil FOMC malam ini, dan perkembangan reformasi pasar modal menjelang keputusan MSCI. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News