KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih menunjukkan pelemahan meski indeks dolar Amerika Serikat (AS) sempat bergerak fluktuatif. Kondisi ini dinilai tidak semata dipengaruhi faktor global, melainkan juga mencerminkan persoalan struktural dalam perekonomian domestik. Berdasarkan data Bloomberg, pada Kamis (30/4) indeks dolar AS turun 0,15% menjadi 98,81. Sementara itu rupiah kembali terdepresiasi 0,12% ke Rp 17.346 per dolar AS.
Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, menilai pergerakan rupiah saat ini semakin tidak sejalan dengan arah indeks dolar AS (US Dollar Index/DXY). Dalam kondisi normal, pelemahan dolar seharusnya memberi ruang penguatan bagi rupiah. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Baca Juga: SSMS Sepakat Bagikan Dividen Rp 800 Miliar dari Laba Buku 2025 "Ketika dolar AS melemah, rupiah tetap tidak menguat secara signifikan. Artinya ada faktor lain di luar geopolitik," ujar Yanuar kepada Kontan, Kamis (30/4/2026). Ia menjelaskan, dinamika global saat ini memang dipenuhi volatilitas tinggi, terutama sejak meningkatnya tensi geopolitik dan lonjakan harga minyak. Kenaikan harga minyak mendorong inflasi AS yang kemudian tercermin dalam kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Dalam beberapa periode, yield US Treasury bergerak di kisaran 4,2%–4,5% seiring harga minyak yang tinggi. Level ini kemudian memengaruhi naik-turunnya indeks dolar AS, tidak dalam tren yang stabil. Namun, menurut Yanuar, pelemahan rupiah yang terus terjadi di tengah fluktuasi global menunjukkan adanya masalah fundamental domestik yang lebih dalam. Yanuar menilai, ketidakseimbangan ini bukan fenomena baru, tetapi sudah terjadi sejak 2016 yang membuat hubungan antara rupiah dan indeks dolar sudah tidak lagi linear. Sebagai gambaran, pada 2016 saat indeks dolar berada di kisaran 97, rupiah masih berada di level sekitar Rp15.000 per dolar AS. Namun kini, pada level indeks dolar yang relatif sama, rupiah sudah melemah ke kisaran Rp17.000 per dolar AS. "Artinya ada pergeseran keseimbangan. Ini menunjukkan adanya masalah struktural di pasar keuangan kita," kata Yanuar. Salah satu faktor utama adalah berkurangnya aliran dana asing ke pasar surat berharga negara (SBN). Sejak aksi jual besar investor asing beberapa tahun lalu, kepemilikan SBN kini lebih didominasi investor domestik. Di satu sisi, kondisi ini memang meningkatkan stabilitas domestik. Namun di sisi lain, hal tersebut mengurangi masuknya likuiditas valuta asing ke pasar keuangan Indonesia. "Kalau SBN lebih banyak dipegang domestik, berarti aliran valas dari luar berkurang. Ini yang membuat rupiah kehilangan salah satu sumber penguatnya," ujar Yanuar. Selain itu, ia juga menyoroti pelebaran defisit fiskal yang dinilai menjadi sinyal pelemahan fundamental ekonomi. Dalam kondisi normal, fundamental yang kuat seharusnya mampu menahan defisit agar tidak melebar signifikan. Menurutnya, pasar membaca peningkatan belanja negara dan kebutuhan pembiayaan sebagai sinyal meningkatnya risiko. "Ketika defisit melebar dan kebutuhan pembiayaan meningkat, pasar melihat pemerintah akan lebih agresif menerbitkan utang. Sementara minat asing belum pulih," ujarnya. Hal ini diperkuat dengan menurunnya
bid-to-cover ratio dalam lelang SBN yang menunjukkan permintaan investor tidak sekuat sebelumnya. Yanuar juga menilai faktor kepercayaan (trust) menjadi kunci dalam pergerakan rupiah saat ini. Ia melihat sebagian pelaku pasar mulai mengalihkan dana ke aset berbasis dolar AS. Fenomena ini tercermin dari meningkatnya simpanan valuta asing di perbankan. Dengan selisih imbal hasil yang tipis antara instrumen rupiah dan dolar, investor dinilai lebih memilih aset yang dianggap lebih aman. "Kalau insentif di dalam negeri tidak cukup menarik, wajar kalau dana berpindah ke dolar," kata Yanuar. Ia juga menilai komunikasi kebijakan yang kurang tepat dapat memperburuk persepsi pasar dan justru menjadi kontraproduktif terhadap stabilitas nilai tukar. Untuk jangka pendek, Yanuar memperkirakan rupiah masih akan bergerak dalam tekanan dengan kecenderungan volatil. Ia memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.500 per dolar AS dalam waktu dekat, dengan peluang menguji level Rp18.000 jika tekanan pasar berlanjut. Menurutnya, Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan menyesuaikan level intervensi untuk menjaga stabilitas tanpa menguras cadangan devisa secara berlebihan. "BI tampaknya mulai menerima level keseimbangan baru. Jika tekanan berlanjut, pasar bisa mendorong ke level yang lebih tinggi," kata Yanuar. Di sisi lain, rencana pemerintah menerbitkan global bond berpotensi memberikan tambahan likuiditas valas dalam jangka pendek.
Namun, Yanuar mengingatkan bahwa langkah ini memiliki konsekuensi biaya yang lebih tinggi, seiring kenaikan yield global. "Kalau pun berhasil diserap pasar, bunganya akan lebih mahal. Dalam jangka panjang tetap jadi beban," tutupnya.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Melemah pada Bulan Mei, Ini Rentang Pergerakannya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News