KONTAN.CO.ID - BRUSSELS. Rusia memperingatkan NATO bahwa Moskow siap menggunakan senjata nuklir jika aliansi pertahanan Barat tersebut berupaya memutus akses Kaliningrad, wilayah eksklave Rusia yang berada di pesisir Laut Baltik. Peringatan tersebut disampaikan Rusia melalui sebuah dokumen diplomatik yang dikirimkan kepada NATO dan dilihat oleh Reuters. Dalam dokumen tersebut, Moskow menuding NATO menjalankan "jalur yang berbahaya dan ceroboh" yang membawa "risiko tinggi pecahnya konflik bersenjata langsung". Rusia juga memperingatkan bahwa konflik dapat mencakup kemungkinan serangan terhadap pusat-pusat pengambilan keputusan di negara-negara anggota NATO sejak awal konflik.
"Rusia akan siap menggunakan seluruh persenjataan kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, termasuk senjata nuklir, untuk mempertahankan wilayahnya jika negara-negara NATO melakukan upaya apa pun yang bertujuan mengisolasi Wilayah Kaliningrad dari bagian negara lainnya," demikian isi catatan diplomatik tersebut.
Baca Juga: Prancis dan Inggris Bahas Penghentian Kesepakatan Migran 'One in, One Out' Rusia Soroti Ancaman terhadap Kaliningrad
Peringatan tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran Moskow terhadap apa yang dipandangnya sebagai ancaman NATO terhadap Kaliningrad. Kaliningrad merupakan wilayah Rusia yang terpisah dari wilayah utama negara tersebut. Wilayah itu berada di antara Polandia dan Lithuania serta berbatasan dengan Laut Baltik. Kaliningrad juga dikenal sebagai wilayah yang memiliki kepentingan strategis dan militer bagi Rusia. Moskow menilai sejumlah aktivitas negara-negara Barat di kawasan Baltik, termasuk latihan militer dan berbagai skenario yang berkaitan dengan Kaliningrad, berpotensi meningkatkan risiko konfrontasi langsung. Selain menyampaikan peringatan secara diplomatik kepada NATO, sejumlah kedutaan Rusia di sedikitnya tiga negara Eropa juga mengeluarkan pernyataan dalam tiga hari terakhir. Pernyataan tersebut menuding NATO meningkatkan ketegangan melalui latihan militer dan perencanaan skenario yang melibatkan Kaliningrad. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menggambarkan pernyataan tersebut sebagai pengingat diplomatik kepada pihak-pihak yang disebutnya sebagai "orang-orang yang berpikiran panas di Eropa".
NATO Bantah Ancam Wilayah Rusia
NATO merespons peringatan Rusia dengan menegaskan bahwa aliansi tersebut bersifat defensif dan aktivitas militernya tidak ditujukan untuk mengancam wilayah Rusia. Dalam tanggapan tertulis yang dilihat Reuters, NATO menyatakan bahwa tidak ada latihan ataupun aktivitasnya yang ditujukan sebagai ancaman terhadap wilayah Federasi Rusia. "Tidak satu pun latihan atau aktivitas NATO menimbulkan ancaman terhadap wilayah Federasi Rusia," kata NATO dalam tanggapannya. NATO juga meminta Rusia menghentikan invasi skala penuh terhadap Ukraina serta menahan diri dari tindakan yang dinilai semakin berisiko terhadap negara-negara anggota aliansi. "Kami menyerukan kepada Federasi Rusia untuk mengakhiri invasi skala penuh yang tidak beralasan terhadap Ukraina. Kami mendesak Federasi Rusia untuk menahan diri dari perilaku yang semakin ceroboh terhadap negara-negara anggota dan menghentikan retorika nuklirnya yang tidak bertanggung jawab," ujar NATO.
Baca Juga: Regulator Wall Street Siapkan Aturan Baru Akses Aset Swasta bagi Investor Ritel Juru bicara NATO Allison Hart sebelumnya mengonfirmasi bahwa Rusia telah mengirimkan dokumen informal atau non-paper kepada aliansi tersebut. NATO menyatakan telah memberikan tanggapan terhadap dokumen tersebut dan menolak ancaman penggunaan kekuatan, termasuk retorika mengenai senjata nuklir.
Risiko Salah Perhitungan Rusia-NATO
Nikolai Sokov, analis nuklir yang berbasis di Wina dan mantan diplomat Rusia, menilai meningkatnya dukungan negara-negara Barat terhadap Ukraina membuat ruang untuk menghindari konfrontasi langsung dengan Moskow semakin sempit. Menurut Sokov, peringatan Rusia dapat menunjukkan meningkatnya pengaruh kelompok garis keras dalam perdebatan mengenai respons terhadap berbagai tindakan negara-negara Barat. Tindakan tersebut antara lain mencakup pengiriman senjata ke Kyiv, pemberlakuan sanksi baru terhadap Moskow, pencegatan kapal Rusia, latihan militer yang semakin sering, serta penerbangan intelijen di sekitar Kaliningrad. "Mereka (Rusia) memperkirakan akan ada lebih banyak tindakan, termasuk blokade Laut Baltik—yang menurut perhitungan Eropa masih berada sedikit di bawah level perang, tetapi bagi mereka hal ini akan menjadi perang terbuka. Saya melihat adanya risiko salah perhitungan dari kedua pihak," kata Sokov. Dalam wawancara daring, Sokov mengatakan Rusia dan Eropa berada dalam jalur yang berpotensi menimbulkan benturan sehingga kedua pihak perlu bertindak dengan hati-hati dan penuh perhitungan. Ia menilai negara-negara Eropa saat ini memberikan "tekanan penuh", sementara Rusia menyampaikan peringatan serius bahwa situasi tersebut memiliki risiko tinggi.
Eropa Tuduh Rusia Lakukan "Perang Hibrida"
Ketegangan Rusia dengan negara-negara Eropa telah memburuk sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Tahun ini, sejumlah pemerintah Eropa menuduh Moskow meningkatkan apa yang mereka sebut sebagai "perang hibrida" di benua tersebut.
Baca Juga: Rusia Perpanjang Larangan Ekspor Solar hingga Akhir Oktober, Pasokan Global Tertekan Tuduhan itu mencakup berbagai tindakan, antara lain sabotase dan pembakaran. Rusia membantah tuduhan tersebut. Moskow juga menolak pernyataan berulang dari sejumlah politikus Barat yang menyebut Rusia sedang mempersiapkan kemungkinan serangan militer terhadap negara anggota NATO. Seorang diplomat NATO mengatakan peringatan Rusia merupakan upaya untuk menekan negara-negara Eropa agar mengurangi dukungan mereka terhadap Ukraina.
"Saya akan mengatakan bahwa surat Rusia tersebut hanyalah upaya Rusia lainnya untuk mengintimidasi warga Eropa, dan respons NATO tegas serta bertanggung jawab. Hal itu menegaskan kembali bahwa kami tidak akan terhalang untuk mendukung Ukraina," kata diplomat NATO tersebut. Sementara itu, seorang pejabat senior pertahanan Eropa menilai peringatan terbaru Rusia merupakan perkembangan serius. "Ini adalah pertama kalinya sejak Perang Dingin Rusia mengancam kami seperti ini. Jadi, ini serius," kata pejabat tersebut. Ketegangan di sekitar Kaliningrad menjadi salah satu titik sensitif dalam hubungan Rusia dan NATO karena posisi wilayah tersebut yang strategis di kawasan Baltik. Peringatan terbaru Moskow sekaligus menambah tekanan terhadap hubungan Rusia dengan negara-negara Eropa yang telah memburuk sejak perang Ukraina.