Rusia: Bergabungnya Ukraina ke NATO Bisa Memicu Perang Dunia Ketiga



KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Pejabat keamanan Rusia pada hari Kamis (13/10) mengingatkan bahwa bergabungnya Ukraina ke NATO bisa membuat perang di Ukraina berkembang menjadi Perang Dunia Ketiga.

Wakil sekretaris Dewan Keamanan Rusia, Alexander Venediktov merasa lamaran Ukraina kepada NATO merupakan propaganda, karena negara Barat telah sepenuhnya memahami konsekuensi yang ada.

"Kiev sangat menyadari bahwa langkah seperti itu berarti jaminan eskalasi ke Perang Dunia Ketiga," tulis kantor berita Rusia, TASS, mengutip pernyataan Venediktov.


Lebih lanjut, Venediktov yakin NATO telah menyadari bahwa langkah itu adalah langkah bunuh diri. Ia pun menyadari tingginya risiko perang nuklir yang bisa membahayakan dunia.

Baca Juga: Pasukan Rusia Tinggalkan Benteng Ukraina, Sekutu Putin Sarankan Respons Nuklir

"Konflik nuklir akan benar-benar mempengaruhi seluruh dunia, tidak hanya Rusia dan Barat secara kolektif, tetapi setiap negara di planet ini. Konsekuensinya akan menjadi bencana bagi seluruh umat manusia," kata Venediktov.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengajukan lamarannya ke NATO melalui jalur cepat hanya beberapa jam setelah Putin secara resmi mengumumkan pencaplokan hingga 18% Ukraina pada 30 September lalu.

Namun, keanggotaan penuh Ukraina di NATO sepertinya masih sulit dicapai karena harus mendapatkan persetujuan dari seluruh 30 anggotanya.

Presiden Rusia Vladimir Putin telah berulang kali mengecam langkah AS yang selalu mendukung upaya NATO untuk lebih banyak menyebar kemampuan militer ke arah timur, terutama di negara-negara bekas Uni Soviet.

Baca Juga: Biden Berupaya Cari Kelemahan Putin Demi Cegah Perang Nuklir

Mengutip Reuters, Putin bulan lalu menegaskan bahwa niatnya untuk menggunakan senjata nuklir jika Barat terus menekan bukanlah sekadar gertakan.

Rusia dan AS sejauh ini merupakan dua negara dengan kekuatan nuklir terbesar di dunia. Dua negara ini memiliki 90% hulu ledak nuklir yang ada di dunia.

Presiden AS Joe Biden menyadari betul bahwa dunia saat ini menghadapi risiko perang nuklir yang lebih besar dibanding Krisis Rudal Kuba 1962.

NATO pekan depan akan mengadakan latihan kesiapsiagaan nuklir tahunan yang bertajuk "Steadfast Noon".