Rusia dan Ukraina Sepakat untuk Gencatan Senjata dan Menggelar Perundingan Damai



KONTAN.CO.ID - KYIV. Ukraina dan Rusia menyepakati gencatan senjata di kota Oleshky, Ukraina, yang saat ini diduduki oleh Rusia. Kesepakatan ini dicapai melalui upaya diplomatik Ibu Negara AS, Melania Trump. 

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan bahwa para negosiator perdamaian akan bertemu bulan depan untuk melakukan pembicaraan baru.

Mengutip Reuters, Sabtu (24/10/2026), kedua belah pihak menyatakan bahwa gencatan senjata akan mulai berlaku pada 27 Oktober, yang memungkinkan penyaluran bantuan serta evakuasi penduduk melalui koridor kemanusiaan.


Di tengah upaya AS untuk mengatur pembicaraan baru guna mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 4,5 tahun ini, Zelenskiy mengungkapkan bahwa negosiator dari Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat telah menyepakati pertemuan tingkat teknis yang akan dilaksanakan pada paruh pertama bulan November di Abu Dhabi. 

Baca Juga: Kilau Bisnis Penyimpanan Emas di Singapura

Seorang pejabat AS kemudian menyampaikan bahwa ketiga negara tersebut mungkin akan mengadakan pembicaraan lanjutan dalam beberapa minggu ke depan, baik di Abu Dhabi maupun Swiss.

Zelenskiy berharap pertemuan antara para pemimpin negara-negara tersebut dapat menyusul kemudian.

Upaya perdamaian ini muncul setelah adanya kerenggangan hubungan antara Washington dan Kyiv dalam beberapa minggu terakhir, serta serangkaian langkah Presiden AS Donald Trump yang dinilai lebih memihak Rusia.

Salah satu sumber ketegangan utama adalah pembatasan pada sistem komunikasi Starlink yang digunakan Ukraina untuk perlindungan terhadap serangan. Trump mengatakan pada hari Jumat bahwa jika Ukraina masih menghadapi kendala dalam mengakses sistem tersebut, ia akan menyelesaikannya dan, jika perlu, akan membicarakan masalah ini dengan CEO SpaceX, Elon Musk.

Di kota Oleshky, yang telah diduduki oleh pasukan Rusia sejak Februari 2022, penduduk melaporkan bahwa mereka menghadapi krisis pangan yang semakin parah. 

"Kedua negara sepakat untuk menghentikan sementara seluruh tindakan militer di Oleshky guna memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan serta mempersiapkan evakuasi warga sipil melalui jalur aman yang telah ditetapkan," demikian pernyataan dari Gedung Putih.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Rusia, Valery Gerasimov, melalui saluran Telegram Kementerian Pertahanan Rusia, menyatakan bahwa pasukan Rusia akan menghentikan tembakan mulai pukul 04.00 waktu setempat (01.00 GMT) pada tanggal 27 Oktober agar operasi kemanusiaan dapat dimulai.

Baca Juga: Sistem Pensiun Singapura Terbaik di Asia, Indonesia Peringkat Berapa?

Ombudsman hak asasi manusia Ukraina, Dmytro Lubinets, juga mengonfirmasi bahwa gencatan senjata akan berlaku mulai 27 Oktober. Ia menyampaikan kepada Reuters bahwa operasi tersebut mencakup pembersihan ranjau di jalan menuju kota itu, penyaluran bahan pangan, serta evakuasi warga sipil.

Upaya Diplomatik Melania Trump

Kedua belah pihak menyebutkan bahwa Melania Trump memainkan peran penting dalam mengoordinasikan kesepakatan tersebut. Ibu Negara AS itu aktif berupaya agar anak-anak Ukraina yang diambil oleh Rusia selama perang dapat dikembalikan kepada keluarga mereka.

"Oleshky adalah kota di garis depan pertempuran yang berada di ambang bencana," ujarnya dalam sebuah pernyataan.

"Penduduk yang tersisa di Oleshky sebagian besar adalah warga lanjut usia yang sangat membutuhkan perawatan medis, obat-obatan, makanan, dan air bersih."

Dalam sepekan terakhir, Paus telah berkomunikasi dengan Zelenskyy maupun Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai situasi di kota tersebut.

Gedung Putih menyatakan bahwa Oleshky—yang terletak di seberang Sungai Dnipro dari kota Kherson yang dikuasai Ukraina—kini hanya menyisakan 1.700 hingga 2.000 penduduk, jauh berkurang dari jumlah sebelum perang yang mencapai 24.000 jiwa.

Pernyataan Zelenskyy mengenai dimulainya kembali pembicaraan damai muncul setelah pertemuannya dengan utusan presiden AS, Steve Witkoff, di Norwegia awal pekan ini, yang kemudian diikuti oleh pertemuan antara Witkoff dan Putin di St. Petersburg.

Zelenskyy mengungkapkan bahwa pada hari Jumat ia telah berbicara dengan Witkoff serta utusan AS lainnya, Jared Kushner. Ia menegaskan bahwa kesepakatan damai apa pun harus mencakup jaminan keamanan yang kuat bagi Ukraina, serta pendanaan selama 10 tahun untuk mendukung militer Ukraina. 

"Rencananya adalah untuk bertemu pada paruh pertama bulan November, dan tentu saja sesegera mungkin," ujar Zelenskyy kepada lembaga pemikir Hudson Institute melalui sambungan video. 

Baca Juga: Imbal Hasil US Treasury 10 Tahun Bertahan di Bawah 5%, Investor Waspadai Gejolak AI

Ia mengatakan bahwa banyak hal akan bergantung pada Rusia, seraya mencatat bahwa pertemuan serupa yang diharapkan terjadi bulan ini ternyata tidak terlaksana.

Zelenskyy menekankan pentingnya upaya diplomatik yang berkelanjutan untuk mencapai gencatan senjata dan mengakhiri perang—yang kini memasuki tahun kelima—serta menambahkan bahwa Eropa juga harus dilibatkan dalam perundingan tersebut.

Para pejabat Ukraina pada hari Jumat menyatakan bahwa pembatasan kecepatan pada sistem Starlink di Ukraina masih diberlakukan, meskipun sebelumnya Trump sempat mengatakan bahwa layanan tersebut telah dipulihkan sepenuhnya.

Trump mengatakan kepada para wartawan di Gedung Putih pada hari Jumat bahwa ia belum berbicara dengan Musk mengenai pembatasan tersebut, namun akan melakukannya jika diperlukan.

"Jika ada masalah, saya akan menyelesaikannya," ujarnya. Pembatasan tersebut telah diterapkan sejak 13 Oktober.

Ukraina dan Rusia pada hari Jumat juga melakukan pertukaran tawanan, dengan masing-masing pihak menyerahkan 270 personel militer, menurut Kementerian Pertahanan Rusia. Zelenskyy menyebut pertukaran tersebut—yang pertama sejak Agustus—sebagai "hasil yang sangat penting."