Rusia Gempur Kyiv, 10 Tewas dan Puluhan Terluka dalam Serangan Balasan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rusia melancarkan serangan besar-besaran ke ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Kamis (2/7/2026), yang menewaskan sedikitnya 10 orang dan melukai lebih dari 50 lainnya.

Serangan menggunakan drone dan rudal itu menghantam kawasan permukiman warga, dalam aksi yang disebut Moskow sebagai balasan atas serangan terbaru Ukraina terhadap infrastruktur sipil Rusia.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sebelumnya telah memperingatkan kemungkinan serangan besar pada malam hari. Ia bahkan memutuskan memperpendek kunjungannya ke Dublin, Irlandia, bertepatan dengan dimulainya masa kepresidenan bergilir Uni Eropa selama enam bulan oleh negara tersebut.


Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko melalui Telegram menyatakan bahwa sedikitnya 10 orang meninggal dunia akibat serangan tersebut. Salah satu kerusakan terparah terjadi pada sebuah gedung apartemen yang enam lantainya runtuh sebagian setelah terkena hantaman langsung proyektil Rusia.

Rekaman video Reuters memperlihatkan tim penyelamat menyisir puing-puing bangunan sembilan lantai yang hancur saat matahari mulai terbit di Kyiv. Kebakaran juga terlihat terjadi di sejumlah titik di ibu kota Ukraina tersebut.

Baca Juga: Aluminium Rebound, Sektor Manufaktur China hingga AS Beri Sentimen Positif

Kepala Administrasi Militer Kota Kyiv, Tymur Tkachenko, mengatakan sebanyak 56 orang mengalami luka-luka, termasuk dua anak-anak. Sedikitnya 36 lokasi di berbagai wilayah kota dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan itu.

"Musuh sekali lagi dengan sengaja menargetkan kawasan permukiman dan membunuh warga sipil. Kami mengalami kerusakan yang sangat luas dan jumlah korban yang signifikan, termasuk anak-anak," tulis Tkachenko melalui Telegram.

Klitschko sebelumnya juga mengungkapkan bahwa para korban luka mencakup petugas medis dan pengemudi di sebuah stasiun ambulans. Selain itu, sejumlah warga dilaporkan masih terjebak di dalam bangunan tempat tinggal yang rusak.

Foto-foto yang beredar di media sosial menunjukkan kobaran api besar di puncak sebuah gedung di Boulevard Shevchenko, kawasan pusat Kyiv. Di lokasi lain, ledakan menghancurkan jendela-jendela bangunan dan merusak sejumlah kendaraan.

Saksi Reuters melaporkan terdengar beberapa ledakan besar di Kyiv. Sementara itu, otoritas di wilayah sekitar ibu kota juga melaporkan adanya korban jiwa dan luka akibat serangan tersebut.

Serangan itu memicu peringatan serangan udara di sebagian besar wilayah Ukraina sepanjang malam. Ribuan warga berbondong-bondong mencari perlindungan di stasiun bawah tanah dengan membawa anak-anak, barang-barang pribadi, tenda, hingga hewan peliharaan. Serangan ini menjadi yang terbesar sejak pertengahan Juni lalu.

Baca Juga: Investor Asing Ramai-ramai Cabut dari Bursa Saham Jepang di Pekan Lalu

Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha, yang tengah melakukan kunjungan ke Jepang, kembali mendesak sekutu-sekutu negaranya agar memperkuat bantuan sistem pertahanan udara.

"Jangan lagi menunda keputusan mengenai pertahanan udara untuk Ukraina. Inilah permintaan utama kami kepada para mitra setelah Kyiv mengalami malam yang penuh kengerian," tulis Sybiha melalui platform X.

Di sisi lain, Polandia yang merupakan anggota NATO dan Uni Eropa sempat mengerahkan jet tempur sebagai langkah antisipasi sebelum akhirnya menarik kembali pesawat-pesawat tersebut setelah dipastikan tidak terjadi pelanggaran wilayah udara.

Finlandia juga sempat menetapkan zona pembatasan penerbangan sementara di Teluk Finlandia bagian timur sebelum kemudian mencabutnya.

Rusia Sebut Serangan sebagai Balasan

Kementerian Pertahanan Rusia melalui Telegram menyatakan bahwa serangan besar-besaran menggunakan senjata presisi jarak jauh yang diluncurkan dari udara, darat, laut, serta drone berhasil menghantam fasilitas militer, energi, dan bandara di Kyiv maupun wilayah lain di Ukraina.

Menurut kementerian tersebut, operasi itu merupakan balasan atas serangan Ukraina terhadap infrastruktur sipil Rusia, meski tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Rusia juga mengklaim telah menembak jatuh 327 drone Ukraina dalam semalam. Angka tersebut termasuk drone yang dihancurkan di wilayah Ukraina yang saat ini diduduki Rusia.

Sementara itu, Zelensky kembali mengusulkan pembicaraan langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin guna mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun. Namun usulan tersebut kembali ditolak oleh Kremlin.

Ukraina Tingkatkan Serangan ke Wilayah Rusia

Dalam beberapa pekan terakhir, Ukraina meningkatkan intensitas serangan jauh ke dalam wilayah Rusia. Serangan tersebut disebut telah memicu krisis bahan bakar di Rusia, yang merupakan produsen minyak terbesar ketiga di dunia, sehingga negara itu terpaksa mengimpor bensin hingga dari India.

Baca Juga: Angka Kematian di AS Turun 4,6% pada 2025, tetapi Kematian Akibat Flu Melonjak 17%

Gubernur wilayah Novosibirsk, Andrey Travnikov, mengatakan melalui Telegram bahwa krisis bahan bakar di wilayahnya, yang berjarak lebih dari 3.000 kilometer di sebelah timur Moskow, semakin memburuk. Pemerintah daerah memprioritaskan distribusi bahan bakar bagi layanan darurat.

Di wilayah Nizhny Novgorod, satu orang dilaporkan tewas, empat lainnya terluka, dan sebuah fasilitas industri mengalami kerusakan akibat serangan drone Ukraina. Wilayah tersebut merupakan lokasi kilang minyak NORSI, salah satu kilang terbesar di Rusia.

Sementara itu, Gubernur wilayah Leningrad, Alexander Drozdenko, menyatakan pasukan Rusia berhasil menembak jatuh tujuh drone pada Kamis. Wilayah tersebut merupakan kampung halaman Presiden Vladimir Putin sekaligus lokasi berbagai fasilitas ekspor dan pengolahan minyak.

Di wilayah Belgorod yang berbatasan langsung dengan Ukraina, seorang pria dilaporkan tewas dan istrinya mengalami luka-luka setelah sebuah drone menghantam rumah mereka.

Hingga kini, Reuters belum dapat memverifikasi secara independen seluruh laporan mengenai jumlah korban di kedua belah pihak. Baik Rusia maupun Ukraina sama-sama menyatakan bahwa mereka tidak secara sengaja menargetkan warga sipil dalam konflik yang masih terus berlangsung.