KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rusia melancarkan salah satu serangan udara terbesar terhadap ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Kamis (3/7) dini hari waktu setempat. Serangan yang melibatkan ratusan drone dan puluhan rudal itu menghancurkan sejumlah bangunan permukiman, menewaskan sedikitnya 18 orang dan melukai lebih dari 90 lainnya. Ledakan terjadi berulang kali di berbagai wilayah Kyiv sepanjang malam. Ribuan warga bergegas mencari perlindungan di bunker dan stasiun metro bawah tanah ketika sistem pertahanan udara Ukraina berupaya menghadang rentetan serangan. Serangan ini menjadi yang paling merusak di Kyiv sepanjang tahun 2026 dan merupakan yang paling mematikan sejak serangan pada Mei lalu yang menewaskan 24 orang setelah sebuah apartemen runtuh akibat hantaman rudal.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperpendek kunjungannya ke Irlandia untuk segera kembali ke negaranya setelah menerima laporan mengenai dampak serangan tersebut. "Serangan utama diarahkan ke Kyiv. Pasokan sistem pertahanan udara bagi Ukraina merupakan prioritas yang mutlak dan sangat mendesak," kata Zelensky. Ia kembali mendesak negara-negara sekutu agar terus memberikan kontribusi terhadap dana pembelian persenjataan Amerika Serikat, termasuk rudal pertahanan udara Patriot yang sangat dibutuhkan Ukraina.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Tiga Hari Beruntun, Selat Hormuz Kembali Normal Rusia Luncurkan 74 Rudal dan Hampir 500 Drone
Angkatan Udara Ukraina melaporkan Rusia menembakkan 74 rudal dan 496 drone sepanjang malam. Juru bicara Angkatan Udara Ukraina, Yuri Ihnat, mengatakan jumlah rudal balistik yang digunakan Rusia kali ini jauh lebih banyak dibandingkan serangan sebelumnya. Tingkat keberhasilan intersepsi terhadap rudal-rudal tersebut juga relatif rendah. Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina menghadapi keterbatasan stok rudal Patriot sehingga kemampuan pertahanan udaranya semakin tertekan menghadapi serangan skala besar. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia melalui Telegram menyatakan bahwa operasi militer tersebut merupakan "serangan besar-besaran" menggunakan senjata presisi jarak jauh yang diluncurkan dari udara, darat, laut, serta drone. Menurut Moskow, sasaran serangan mencakup fasilitas militer, infrastruktur energi, serta bandara di Kyiv dan sejumlah wilayah lainnya. Pemerintah Rusia menyebut serangan itu merupakan balasan atas meningkatnya serangan drone Ukraina terhadap wilayah Rusia. Di sisi lain, Ukraina mengklaim berhasil menyerang sebuah kilang minyak di wilayah Nizhny Novgorod pada malam yang sama. Gubernur setempat melaporkan satu orang tewas akibat serangan terhadap fasilitas industri tersebut. Kremlin juga menyatakan Presiden Vladimir Putin telah menerima laporan langsung dari para komandan militer mengenai operasi tersebut dan menegaskan Rusia akan terus meningkatkan tekanan terhadap Ukraina guna mencapai tujuan perang.
Kyiv Tetapkan Hari Berkabung
Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko menetapkan hari berkabung pada Jumat (4/7) menyusul besarnya korban jiwa dan kerusakan yang terjadi. Ia mengatakan kerusakan tercatat hampir di seluruh wilayah kota yang dihuni sekitar tiga juta penduduk. Beberapa bangunan mengalami kerusakan berat hingga nyaris rata dengan tanah. Duta Besar Uni Eropa untuk Ukraina, Katarina Mathernova, menyebut serangan Rusia kali ini sangat menghancurkan. "Rusia menghadirkan neraka di Kyiv semalam," ujarnya. Menurut Mathernova, salah satu bangunan yang digunakan sebagai tempat tinggal staf diplomatik juga ikut menjadi sasaran. Meski tidak ada diplomat yang terluka, seluruh barang-barang mereka rusak akibat kebakaran hebat yang melanda gedung tersebut. Tim penyelamat hingga Kamis pagi masih melakukan pencarian korban di reruntuhan sebuah gedung sembilan lantai di tepi timur Sungai Dnipro yang membelah Kota Kyiv.
Baca Juga: Iran Ancam AS dan Israel Jelang Pemakaman Ali Khamenei Pemerintah kota menyatakan lebih dari 90 orang mengalami luka-luka, termasuk anak-anak, tenaga medis, dan pengemudi ambulans. Sejumlah warga juga dilaporkan masih terjebak di dalam bangunan yang runtuh. Seorang warga Kyiv, Iryna Plekhova, menggambarkan kepanikan yang dialaminya saat serangan berlangsung. "Rumah kami terbakar. Oleg sedang mengevakuasi tetangga kami dari rumah yang terbakar, sementara saya menelepon semua layanan darurat di tengah ledakan yang terus terjadi," tulisnya di Facebook. Ia menambahkan, "Kami sudah tidak memiliki apartemen lagi."
Laboratorium Biokimia Ikut Hancur
Salah satu fasilitas yang mengalami kerusakan berat adalah National Institute of Biochemistry. Laboratorium biokimia modern beserta sejumlah ruang penelitian lainnya hancur akibat serangan tersebut. Ahli biologi Yurii Danylovych mengatakan laboratorium tersebut menyimpan berbagai peralatan penelitian yang sangat langka. "Ini adalah bencana bagi ilmu pengetahuan medis dan biologi Ukraina," ujarnya.
Polandia Kerahkan Jet Tempur
Dampak serangan Rusia juga dirasakan negara-negara tetangga Ukraina. Polandia, yang merupakan anggota NATO dan Uni Eropa, sempat mengerahkan pesawat tempur sebagai langkah antisipasi. Sementara itu, Finlandia untuk sementara memberlakukan zona pembatasan penerbangan di kawasan timur Teluk Finlandia sebagai tindakan pencegahan.
Uni Eropa Dorong Sanksi Baru terhadap Rusia
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menilai hanya dukungan militer yang berkelanjutan kepada Ukraina serta tekanan yang lebih besar terhadap Moskow yang dapat menghentikan serangan-serangan Rusia.
Baca Juga: DBS Singapura dan Samsung Securities Kerjasama Kembangkan Wealth Management "Hari ini saya akan mengusulkan pemberian sanksi terhadap lebih banyak entitas yang mendukung kompleks industri militer Rusia sebagai respons atas serangan ini. Semakin Moskow menyerang warga sipil, semakin banyak pula sanksi yang harus dijatuhkan," tulis Kallas melalui akun X. Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina meningkatkan serangan jarak jauhnya ke wilayah Rusia, terutama terhadap fasilitas energi. Serangan tersebut disebut telah memicu gangguan pasokan bahan bakar di Rusia sehingga negara produsen minyak terbesar ketiga di dunia itu harus mengimpor bensin dari negara lain, termasuk India.
Sebagai balasan, Rusia meningkatkan intensitas serangan udara ke berbagai kota di Ukraina, termasuk menyerang sebuah katedral berusia lebih dari seribu tahun di Kyiv pada bulan lalu yang memiliki nilai penting bagi umat Ortodoks di Rusia maupun Ukraina. Presiden Zelensky sebelumnya telah mengusulkan perundingan langsung dengan Presiden Vladimir Putin guna mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun. Namun, usulan tersebut ditolak oleh Kremlin. Sejak invasi skala penuh dimulai pada Februari 2022, ribuan warga sipil Ukraina dilaporkan tewas akibat serangan Rusia di Kyiv maupun kota-kota lainnya. Rusia membantah secara sengaja menyerang warga sipil dan menyatakan bahwa sasaran mereka adalah infrastruktur yang dinilai mendukung kemampuan militer Ukraina. Di sisi lain, Ukraina juga melancarkan serangan ke wilayah Rusia dan daerah Ukraina yang diduduki Rusia, meskipun dalam skala yang jauh lebih kecil.