Rusia Mulai Kirim LNG ke Asia Lewat Jalur Laut Utara Lebih Awal



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebuah kapal pengangkut gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) berlayar dari terminal ekspor Rusia menuju Asia melalui Jalur Laut Utara (Northern Sea Route/NSR).

Berdasarkan data LSEG pada Kamis (28/5/2026), pelayaran ini menjadi yang pertama pada tahun 2026 yang melintasi rute tersebut, seiring musim navigasi yang dibuka lebih awal dari biasanya.

Rusia terus mendorong peningkatan perdagangan dengan Asia melalui Jalur Laut Utara yang dianggap sebagai alternatif dari jalur pelayaran tradisional seperti Terusan Suez. Upaya ini dilakukan di tengah meningkatnya risiko keamanan pelayaran global, khususnya di kawasan Timur Tengah akibat konflik militer yang berlangsung.


Data menunjukkan kapal tanker kelas es Christophe de Margerie berangkat membawa muatan dari fasilitas Arctic LNG 2. Proyek LNG tersebut telah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat terkait konflik Ukraina.

Kapal tanker kelas es umumnya memiliki lambung ganda dengan struktur yang diperkuat agar mampu menahan tekanan es, serta baling-baling yang dirancang khusus untuk beroperasi di wilayah perairan beku.

Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Tekan Bursa Global, Harga Minyak Melonjak

Pada tahun lalu, kapal tanker pertama yang melintasi Jalur Laut Utara baru berangkat pada akhir Juni dengan membawa muatan dari proyek Yamal LNG. Tahun ini, pelayaran dimulai lebih cepat dibandingkan pola sebelumnya.

Jalur Laut Utara membentang dari Murmansk di dekat perbatasan Rusia dan Norwegia hingga Selat Bering di dekat Alaska. Meski rute tersebut memiliki tantangan alam yang berat, jalur ini dinilai mampu memangkas waktu pengiriman laut antara Eropa dan Asia.

Bagi Rusia, pengembangan Jalur Laut Utara menjadi semakin penting setelah perdagangan dengan negara-negara Barat merosot tajam sejak Moskow mengirim pasukan ke Ukraina pada 2022. Kondisi tersebut mendorong Rusia memperkuat hubungan dagang dengan negara-negara Asia.

Es laut di sekitar Kutub Utara biasanya mencapai cakupan terluas pada akhir musim dingin di bulan Maret dan mencair hingga mencapai titik minimum tahunan pada September. Dalam beberapa dekade terakhir, luas es terus menyusut, sebuah tren yang menurut ilmuwan berkaitan dengan perubahan iklim akibat aktivitas manusia.