KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak menyatakan bahwa pemerintah berpotensi kembali memberlakukan larangan ekspor bensin jika kondisi pasar domestik menuntut. Novak mengungkapkan bahwa dirinya akan menggelar pertemuan dengan perusahaan-perusahaan minyak pada Jumat untuk membahas situasi pasokan dan harga bahan bakar di dalam negeri. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga stabilitas energi di tengah dinamika pasar global.
Antisipasi Kelangkaan dan Lonjakan Harga
Pemerintah Rusia sebelumnya telah beberapa kali menerapkan pembatasan ekspor bensin dan solar guna menekan kenaikan harga serta mengatasi potensi kelangkaan di dalam negeri.
Baca Juga: India Amankan Pasokan Minyak 60 Hari di Tengah Gejolak Timur Tengah Pada tahun lalu, sejumlah wilayah di Rusia dan sebagian wilayah Ukraina yang berada di bawah kendalinya mengalami kekurangan bensin. Kondisi tersebut dipicu oleh meningkatnya serangan terhadap kilang minyak Rusia serta lonjakan permintaan musiman. Kebijakan pembatasan ekspor dinilai efektif dalam menjaga ketersediaan pasokan domestik, meskipun berdampak pada arus perdagangan energi global.
Harga Minyak Urals Menguat
Dalam pernyataannya, Novak juga menyoroti kinerja harga minyak andalan Rusia, yaitu Urals oil. Ia menyebutkan bahwa minyak Urals dan produk turunannya kini diperdagangkan setara, bahkan dengan premi dibandingkan harga minyak Brent crude.
Baca Juga: Merger Warner Bros–Paramount Senilai US$110 Miliar Masuki Tahap Krusial Kondisi ini mencerminkan kuatnya permintaan terhadap minyak Rusia di tengah ketidakpastian pasokan global, termasuk akibat konflik geopolitik dan gangguan distribusi energi di berbagai kawasan.
Ekspor Tetap Signifikan
Berdasarkan data sumber industri, Rusia mengekspor hampir 5 juta metrik ton bensin sepanjang tahun lalu, atau setara sekitar 117.120 barel per hari. Ke depan, kebijakan terkait ekspor bahan bakar akan sangat bergantung pada kondisi pasokan domestik dan stabilitas harga energi global. Pemerintah Rusia diperkirakan akan terus menyesuaikan kebijakan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dalam negeri dan kepentingan ekspor.