Rusia Pilih Diam soal Gejolak Iran, Enggan Ambil Risiko Politik dan Reputasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rusia tampaknya tidak berniat ikut campur secara langsung dalam gelombang protes dan ketegangan politik yang melanda Iran.

Moskow menilai aksi unjuk rasa besar-besaran di negara tersebut telah mereda dan tidak lagi mengancam stabilitas pemerintahan Teheran.

Penilaian itu disampaikan salah satu pakar Rusia terkemuka soal Iran, Nikita Smagin. Ia mengungkapkan, Kedutaan Besar Rusia di Teheran telah melaporkan kepada Kremlin bahwa situasi di lapangan mulai terkendali.


Baca Juga: China dan Rusia Tolak Langkah Eropa Memulihkan Sanksi terhadap Iran

“Moskow bisa bernapas lega,” kata Smagin kepada Al Jazeera.

Protes di Iran meletus sejak 28 Desember, dipicu tekanan ekonomi di tengah sanksi internasional. Aksi tersebut menyebar ke ratusan kota dan wilayah di negara berpenduduk lebih dari 90 juta jiwa itu.

Aparat keamanan Iran bergerak cepat membubarkan demonstrasi, yang diduga dilakukan dengan kekerasan.

Menurut Smagin, Kremlin menilai tidak ada ancaman serius dari dalam negeri Iran. “Rusia berpikir tidak ada yang membahayakan Iran dari sisi domestik,” ujarnya. Smagin sendiri meninggalkan Rusia setelah invasi Moskow ke Ukraina pada 2022.

Baca Juga: Kesepakatan Diam-Diam Trump: Ukraina, Rusia, dan Bisnis Triliunan Dolar

Sikap resmi Rusia baru muncul pada Selasa lalu. Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam apa yang disebutnya sebagai “tekanan ilegal Barat” dan menuding adanya kekuatan eksternal yang berupaya mengguncang dan menghancurkan Republik Islam Iran.

Juru bicara Kemenlu Rusia, Maria Zakharova, kembali menggunakan narasi lama Kremlin soal “revolusi warna”, istilah yang kerap dipakai Moskow untuk menggambarkan gerakan protes yang dianggap direkayasa Barat.

Ia menuding adanya provokator terlatih yang mengubah aksi damai menjadi kekacauan dan kekerasan.

Zakharova juga mengecam pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai mendorong intervensi dalam urusan domestik Iran.

Ancaman tersebut disebutnya “sama sekali tidak dapat diterima”. Menurutnya, meredanya protes yang “direkayasa secara artifisial” berpotensi membawa stabilisasi di Iran.

Trump sebelumnya secara terbuka menyerukan rakyat Iran untuk “mengambil alih institusi”, bahkan menyatakan bahwa bantuan AS sedang dalam perjalanan. Dalam unggahan sebelumnya, ia juga melontarkan ancaman keras terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Baca Juga: Pejabat Rusia Ingatkan Trump Soal Kemampuan Serangan Nuklir Kiamat Rusia, Ada Apa?

Menariknya, Presiden Rusia Vladimir Putin memilih tidak berkomentar langsung soal situasi Iran. Sikap ini mengingatkan pada respons Moskow yang juga cenderung pasif terhadap sejumlah krisis politik di negara-negara sekutunya.

Menurut Smagin, diamnya Rusia selama hampir dua pekan sejak protes pecah menunjukkan kehati-hatian Kremlin.