Rusia Sebut Harga Minyak Bakal Naik Imbas Serangan Ukraina ke Fasilitas Energi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rusia tekankan bakal adanya lonjakan harga minyak mentah dunia jika Ukraina terus melancarkan serangan terhadap infrastruktur dan fasilitas minyak milik Negeri Beruang Merah tersebut.

Mengutip laporan Kantor Berita Anadolu, Selasa (5/5/2026), Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan bahwa gangguan pada pasokan Rusia akan langsung memicu respons harga di pasar global. 

“Jika sebagian pasokan minyak Rusia menghilang dari pasar global akibat serangan Kyiv terhadap fasilitas-fasilitas tersebut, harga minyak akan naik,” ujarnya dalam wawancara dengan saluran TV Rusia VGTRK.


Baca Juga: Mendag: Pasokan Minyak Goreng Aman, Kenaikan Dipicu Harga Plastik

Peskov menilai, kenaikan harga ini justru akan memberikan keuntungan finansial bagi Moskow meskipun volume ekspor mungkin terkendala. 

“Apa artinya? meskipun jumlah minyak yang diekspor berkurang, perusahaan-perusahaan kami akan mendapatkan lebih banyak uang, dan negara kami akan menerima lebih banyak uang,” tegasnya.

Di sisi lain, Peskov mengungkapkan, penting bagi Rusia untuk terus melakukan langkah preventif guna menjaga aset energi mereka. 

“Namun yang terpenting, tentu saja, adalah bagi kami untuk terus melindungi diri dari risiko serangan teroris lebih lanjut oleh rezim Kyiv,” katanya.

Terkait keterlibatan pihak luar, Peskov menyebut Amerika Serikat sebenarnya memiliki kemampuan untuk meredam aksi Kyiv.

Namun, ia menyoroti kemunculan pemain ketiga, yakni Eropa, yang dianggap menggunakan sentimen Russophobia untuk mempercepat pembangunan militer. 

Baca Juga: Harga Jual Produk Diprediksi Melonjak, Kadin Minta Pemerintah Perkuat Daya Beli

"Eropa sedang melakukan mobilisasi, menggunakan Russophobia yang berlebihan ini sebagai pemicu. Mereka siap menghabiskan dana besar untuk penguatan militer," imbuhnya.

Lebih lanjut, Peskov menanggapi klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut kesepakatan damai Ukraina sudah dekat. Menurutnya, Rusia memandang segala kemungkinan secara skeptis sebelum ada langkah konkret di lapangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: