Rusia Serang Kyiv dengan Rudal Balistik, Zelensky Tuduh Langgar Gencatan Senjata



KONTAN.CO.ID - KYIV. Ketegangan antara Rusia dan Ukraina kembali meningkat setelah pasukan Moskow melancarkan serangan rudal balistik ke Kyiv, Ukraina, pada Selasa (13/10/2026). Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuding Rusia melanggar kesepakatan gencatan senjata di sektor energi yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada akhir pekan lalu.

Serangan tersebut dilaporkan menyasar pembangkit listrik tenaga termal di Kyiv. Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko juga menyatakan bahwa serangan terhadap sebuah gedung apartemen bertingkat tinggi menewaskan dua orang.

Zelensky mengungkapkan kekecewaannya karena Ukraina tidak menerima peringatan dini seperti biasanya sebelum serangan terjadi.


“Sekali lagi, tidak ada peringatan sebelumnya dari mitra kami,” kata Zelensky melalui Telegram, tanpa menjelaskan alasan tidak adanya peringatan tersebut.

Ia juga memperingatkan bahwa Rusia sedang mempersiapkan serangan rudal balistik lanjutan berdasarkan informasi intelijen Ukraina.

Baca Juga: Daftar 5 Miliarder Paling Merugi pada Selasa (13/10), Bos SoftBank Terbanyak

“Menurut informasi intelijen kami, Rusia sedang mempersiapkan peluncuran rudal balistik lebih lanjut,” ujarnya.

Zelensky menilai serangan tersebut menunjukkan bahwa Rusia tidak merasa terikat dengan gencatan senjata sektor energi yang diumumkan Trump pada Minggu (11/10/2026). Meski demikian, kedua negara yang berperang itu belum secara resmi mengonfirmasi kesepakatan tersebut.

Trump Pastikan AS Masih Berbagi Intelijen dengan Ukraina

Di tengah meningkatnya serangan Rusia, Trump menegaskan bahwa pemerintah AS masih membagikan informasi intelijen kepada Ukraina. Washington juga terus bekerja sama dengan Kyiv dan Moskow untuk mengakhiri perang.

Berbicara kepada wartawan pada Selasa, Trump mengatakan, “Kami membantu mereka dan kami berbagi informasi intelijen.”

Informasi intelijen AS memiliki peran penting bagi Ukraina, terutama untuk memberikan peringatan dini terhadap serangan rudal Rusia serta membantu Kyiv menentukan sasaran militer Rusia. Sejumlah pakar dan pejabat menyebut Ukraina sangat bergantung pada dukungan intelijen Washington untuk menjalankan kedua fungsi tersebut.

Ketika ditanya apakah Rusia telah melanggar gencatan senjata, Trump tidak memberikan jawaban langsung.

“Saya akan memberi tahu Anda mengenai hal itu nanti,” katanya.

Trump juga menghindari pertanyaan mengenai kemungkinan Rusia menggunakan pendapatan dari kesepakatan ekspor diesel untuk membeli lebih banyak bom.

“Itu adalah kesepakatan diesel, bukan untuk kami. Produk itu dilepas ke pasar dunia, bukan untuk kami,” ujar Trump.

Zelensky Kritik Pelonggaran Sanksi Diesel Rusia

Persoalan gencatan senjata turut berkaitan dengan tekanan Trump terhadap Ukraina agar menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia. Tekanan tersebut muncul setelah pemerintah AS melonggarkan sanksi terhadap ekspor diesel Rusia.

Trump berpendapat, kebijakan tersebut dapat membantu menurunkan harga bahan bakar di AS menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections yang akan digelar pada November 2026.

Namun, Zelensky menilai pelonggaran sanksi tersebut tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap harga bahan bakar di AS.

Dalam wawancara dengan National Public Radio (NPR), Zelensky mengatakan bahwa pembagian informasi intelijen AS kepada Ukraina masih berlangsung. Meski demikian, ia menyebut para jenderal Ukraina sempat menerima peringatan bahwa dukungan tersebut mungkin akan dihentikan.

“Para jenderal saya memberi tahu bahwa pada tingkat militer, mereka telah menerima informasi tersebut,” kata Zelensky.

Mengenai pelonggaran sanksi diesel Rusia, Zelensky meyakini volume pasokan yang dilepas ke pasar tidak cukup besar untuk menurunkan harga bahan bakar AS secara berarti.

“Saya yakin demikian karena volumenya tidak cukup,” ujarnya.

Baca Juga: Paus Leo XIV Idap Kanker Paru-Paru, Ini Kondisi Terbarunya Setelah Operasi

Namun, ia menilai kebijakan tersebut justru dapat memberikan tambahan dana bagi Moskow untuk membiayai perang.

“Tetapi, jumlah itu cukup bagi Rusia untuk mengeluarkan lebih banyak uang, sangat banyak uang, untuk perang,” tambahnya.

Zelensky juga menyatakan bahwa Ukraina tidak menyerang kilang minyak Rusia sejak Trump mengumumkan rencana gencatan senjata pada Minggu.

Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengatakan negaranya masih menerima informasi intelijen militer dari AS. Ia mengaitkan keterlambatan peringatan serangan dengan jenis senjata yang digunakan Rusia.

Perang Iran Dinilai Lebih Memengaruhi Harga BBM AS

Trump berulang kali menyalahkan serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia atas kenaikan tajam harga bahan bakar di AS sepanjang tahun ini. Serangan tersebut sebelumnya mendorong Moskow menghentikan ekspor diesel.

Kenaikan harga energi menjadi persoalan politik bagi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu Kongres AS yang tinggal sekitar tiga pekan dari pernyataan tersebut.

Namun, sebagian besar analis menilai perang AS di Iran memberikan dampak yang jauh lebih besar terhadap kenaikan harga bahan bakar dibandingkan serangan Ukraina terhadap fasilitas minyak Rusia.

Zelensky menyampaikan pandangan serupa dalam wawancaranya dengan NPR.

“Semua orang memahami hal itu,” katanya.

Di sisi lain, serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina terus berlanjut. Moskow dilaporkan menyerang enam fasilitas energi Ukraina pada Senin (12/10/2026).

Juru bicara Kremlin, ketika ditanya mengenai gencatan senjata sektor energi, hanya mengatakan bahwa komunikasi antara pihak-pihak terkait masih berlangsung. Ia menolak memberikan perincian lebih lanjut.

Ukraina Siap Lanjutkan Perundingan dengan AS

Dalam pidato malam yang diunggah melalui platform X, Zelensky mengatakan Ukraina telah mengirimkan sejumlah usulan kepada pejabat AS. Usulan tersebut ditujukan untuk membuka jalan bagi pertemuan baru dalam beberapa hari mendatang dengan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner guna membahas penyelesaian konflik.

Zelensky menegaskan Ukraina mendukung pengumuman gencatan senjata sektor energi oleh Trump, dengan syarat Rusia juga mematuhinya.

“Kita perlu bekerja untuk perdamaian dan mencari cara untuk mengambil langkah-langkah yang tepat. Ukraina siap untuk melakukan pertemuan,” ujarnya.

Sebelumnya, Zelensky kembali menegaskan bahwa Kyiv bersedia mengambil langkah timbal balik untuk meredakan ketegangan. Ia juga meminta negara-negara mitra meningkatkan tekanan terhadap Moskow agar bersedia menghentikan serangan.

Delegasi Ukraina telah mengadakan pembicaraan di AS pada pekan lalu. Sejumlah pihak yang mengetahui pertemuan tersebut mengatakan Witkoff dan Kushner menjelaskan bahwa kesepakatan untuk mengizinkan ekspor diesel Rusia merupakan bagian dari upaya mendorong Moskow kembali ke meja perundingan.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Stabil, Menanti Data Inflasi AS dan Keputusan The Fed

Ukraina Merasa Memiliki Posisi Tawar Lebih Kuat

Di tengah ketidakpastian dukungan dan perkembangan militer, Ukraina menilai kemampuan negosiasinya kini semakin kuat.

Fabian Hoffmann, pakar rudal dari Norwegian Institute for Defence Studies, mengatakan kemampuan sekutu Eropa untuk menggantikan dukungan intelijen peringatan dini AS terhadap serangan rudal Rusia masih sangat terbatas.

“Ukraina bergantung pada apa yang disebut Sistem Inframerah Berbasis Antariksa (Space-Based Infrared System) yang dioperasikan AS. Sistem AS benar-benar tidak tertandingi, dan hanya Amerika Serikat yang dapat menyediakan kemampuan tersebut,” kata Hoffmann.

Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya dukungan teknologi militer Washington bagi Ukraina, terutama dalam mendeteksi ancaman rudal dan memberikan peringatan sebelum serangan terjadi.

Sementara itu, Sybiha menilai permintaan AS agar Ukraina menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia menunjukkan bahwa posisi Kyiv dalam konflik telah menguat.

Ia menyinggung pernyataan Trump dalam pertemuan di Ruang Oval yang berlangsung tegang pada tahun lalu. Saat itu, Trump mengatakan kepada Zelensky bahwa Ukraina tidak memiliki kartu yang bisa dimainkan dalam negosiasi.

“Dalam waktu kurang dari dua tahun, kita telah beralih dari ‘tidak memiliki kartu’ menjadi ‘tidak memainkan kartu yang kita miliki’. Itu merupakan sebuah pencapaian,” kata Sybiha.