Rusia Siap Menantang AS di Persaingan Menuju Presiden Bank Dunia



KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Tak ingin kalah dari AS, Rusia dan mitranya kini sedang menimbang opsi untuk mengirim satu nama untuk bersaing menjadi presiden Bank Dunia berikutnya.

Presiden AS, Joe Biden, bulan lalu menominasikan Ajay Banga, mantan CEO Mastercard, untuk menggantikan David Malpass di kursi tertinggi Bank Dunia. Malpass sendiri merupakan ekonom dan mantan pejabat AS.

Banga mengatakan dia telah mendapat dukungan dari India, Ghana dan Kenya. Profil Banga juga mendapat ulasan yang positif dari Prancis dan Jerman pada pertemuan pejabat keuangan G20 bulan lalu. Pada hari Selasa (6/3), Banga baru saja mendapat dukungan dari Bangladesh.


Mengutip Reuters, direktur eksekutif Bank Dunia yang mewakili Rusia dan Suriah, Roman Marshavin, mengatakan pihaknya masih melakukan konsultasi dan mengumpulkan nama-nama potensial untuk bersaing dengan calon dari AS.

Baca Juga: Sekjen PBB: Sistem Keuangan Global Dirancang untuk Menguntungkan Negara Kaya

Kantor berita negara Rusia, TASS, sebelum ini juga melaporkan bahwa Marshavin sedang berdiskusi dengan negara lain tentang kandidat yang berpotensi mereka usung.

Terkait latar belakang calon, Marshavin mengatakan sosok tersebut bisa datang dari kalangan pemodal Rusia dan ekonom asing, mantan kepala organisasi internasional, serta beberapa mantan menteri keuangan dan kepala bank sentral.

Bank Dunia akan menerima nominasi dari dari semua negara hingga 29 Maret. Sejauh ini baru Ajay Banga yang telah didaftarkan.

Baca Juga: UNDP: 52 Negara Kesulitan Membayar Utang, Separuhnya Terancam Gagal Bayar

Bank Dunia telah dipimpin oleh orang AS sejak didirikan pada akhir Perang Dunia Kedua. AS memiliki peran besar di Bank Dunia karena menjadi pemegang saham dominan di lembaga tersebut.

Tantangan baru yang datang dari Rusia dan sekutunya kali ini diprediksi tidak akan mengubah keadaan. Hampir bisa dipastikan bahwa calon yang diajukan AS akan terpilih menjadi presiden Bank Dunia selanjutnya.

Niat Rusia untuk bersaing tahun hanya akan semakin menunjukkan adanya ketegangan antara kedua negara, termasuk China sebagai pemegang saham terbesar ketiga di Bank Dunia yang kemungkinan besar akan memberikan dukungan untuk calon dari Rusia.