KONTAN.CO.ID - MOSKWA. Meski pembicaraan damai terus berlangsung, Rusia tetap melanjutkan ofensif berskala besar untuk merebut wilayah strategis Ukraina. Selama setahun terakhir, serangan Rusia didominasi oleh gelombang pasukan infanteri, yang terkadang menggunakan sepeda motor, ATV, bahkan kuda. Armada tank Rusia, yang dulu menjadi andalan, jarang dikerahkan karena ancaman drone FPV dan bomber Ukraina.
Baca Juga: Putin Siap Kompromi? Rusia Ajukan Proposal Damai Baru untuk Akhiri Perang Ukraina Beberapa upaya untuk mengembalikan tank ke medan tempur, seperti memasang jaring pelindung atau lapisan improvisasi, hanya memberikan hasil terbatas. Tanpa dukungan tank yang efektif, serangan infanteri Rusia berjalan lambat, lebih terekspos, dan rentan terhadap tembakan Ukraina, menyebabkan korban tinggi dan hasil terbatas. Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan taktik baru untuk mengembalikan tank ke medan tempur. Dalam pendekatan ini, dua tank bergerak berpasangan dengan dukungan drone secara terus-menerus. Satu tank menembak dari posisi jarak jauh, sementara tank kedua melakukan manuver cepat ke garis kontak. Drone membantu koordinasi gerakan dan tembakan dengan memberikan deteksi sasaran, koreksi tembakan, dan pemantauan medan tempur.
Baca Juga: 4 Hal yang Diinginkan Vladimir Putin dari Ukraina Kedua tank secara bergantian menukar peran untuk menghindari menjadi sasaran tetap, sambil menembakkan daya hancur yang signifikan ke garis pertahanan lawan. Taktik ini menekankan pengacakan sensor musuh sekaligus mendorong penetrasi cepat.
Taktik ini berbeda jauh dari doktrin tank tradisional Rusia yang diwarisi dari era Soviet, di mana tank biasanya menyerang bersama artileri dalam formasi besar setelah bombardemen awal. Kini, konsentrasi tank yang masif dianggap terlalu berisiko karena mudah dideteksi drone dan rentan terjebak di rintangan perkotaan atau alami.
Baca Juga: Perang Aset Beku Rusia vs Uni Eropa: Bisa Picu Perang Besar Ekonomi Baru Selain itu, peran drone menjadi sangat sentral. Selama ini, Rusia sudah mengintegrasikan drone ke dalam taktiknya, tetapi taktik baru ini bahkan menggantikan sebagian fungsi artileri dengan drone, mencerminkan tren perang modern yang didominasi teknologi udara tak berawak.