Rusia-Ukraina Mulai Gencatan Senjata di Oleshky, Serangan di Wilayah Lain Berlanjut



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rusia dan Ukraina mulai memberlakukan gencatan senjata lokal pada Selasa (27/10/2026) untuk membuka jalan bagi operasi kemanusiaan di Oleshky, kota di wilayah Kherson, Ukraina selatan, yang berada di bawah pendudukan Rusia.

Meski demikian, serangan militer kedua pihak masih berlanjut di sejumlah wilayah lain, termasuk ibu kota Ukraina, Kyiv.

Gencatan senjata tersebut bertujuan memfasilitasi pengiriman bantuan kemanusiaan serta evakuasi warga dari Oleshky. Kota di garis depan pertempuran itu tengah menghadapi kekurangan parah pasokan makanan dan obat-obatan.


Komisaris Parlemen Ukraina untuk Hak Asasi Manusia, Dmytro Lubinets, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mematuhi kesepakatan penghentian tembakan tersebut.

“Sebagai kepala tim negosiasi Ukraina, saya mengonfirmasi bahwa pihak Ukraina memenuhi komitmennya,” kata Lubinets dalam unggahan di Facebook.

Baca Juga: OPEC+ Diperkirakan Pertahankan Target Produksi Minyak Desember 2026

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia melalui Telegram menyatakan telah menghentikan penembakan ke arah Kota Kherson, Ukraina, mulai pukul 04.00 waktu Moskow atau pukul 01.00 GMT. Langkah tersebut dilakukan untuk mempersiapkan pelaksanaan operasi kemanusiaan di Oleshky, yang terletak di seberang Sungai Dnipro dari Kota Kherson.

Lubinets menambahkan, kesepakatan tersebut dicapai melalui koordinasi dengan Ibu Negara Amerika Serikat Melania Trump dan Komisaris Hak Asasi Manusia Rusia, Yana Lantratova.

Serangan Baru di Kyiv Ganggu Lalu Lintas

Di tengah pemberlakuan gencatan senjata lokal, serangan baru menghantam Jembatan Selatan dan infrastruktur kereta bawah tanah di Kyiv pada Selasa. Pejabat setempat menyatakan serangan tersebut memaksa penghentian sementara lalu lintas di sejumlah lokasi. Saksi Reuters juga mendengar suara ledakan di ibu kota Ukraina itu.

Oleshky berada di tepi timur Sungai Dnipro, di wilayah Kherson, Ukraina selatan. Kota tersebut berhadapan langsung dengan Kota Kherson yang dikuasai pasukan Ukraina.

Namun, pasukan Rusia telah mengendalikan Oleshky sejak merebutnya pada hari-hari pertama invasi besar-besaran ke Ukraina pada Februari 2022.

Dalam beberapa hari terakhir, utusan Gedung Putih telah berkomunikasi dengan kedua pihak untuk mencari solusi guna mengakhiri perang. Amerika Serikat berupaya memediasi kesepakatan damai dalam konflik yang menjadi perang paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II.

Pada Jumat (23/10/2026), Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan para negosiator dari Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat telah sepakat menggelar pertemuan tingkat teknis pada paruh pertama November di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Pertemuan tersebut direncanakan menjadi bagian dari upaya melanjutkan pembicaraan untuk mencari jalan keluar dari konflik yang telah berlangsung sejak 2022.

Serangan Rusia dan Ukraina Masih Berlanjut

Meski gencatan senjata lokal diberlakukan di sekitar Oleshky, serangan di wilayah lain masih menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.

Baca Juga: Apple Akui Layar iPhone Duo Bermasalah, Siap Ganti Unit yang Rusak

Serangan rudal Rusia di Kyiv sejak Senin malam dilaporkan menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai 15 orang. Sejumlah korban luka termasuk mahasiswa yang berada di sebuah asrama.

Serangan juga menimbulkan korban di Kota Kharkiv dan Pavlohrad, Ukraina. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan pihaknya telah menyerang infrastruktur transportasi di Kyiv, pusat logistik di wilayah Kharkiv, serta sejumlah fasilitas industri dan kapal kargo yang menurut Rusia digunakan untuk kepentingan militer.

Di wilayah Rusia, serangan pesawat nirawak atau drone di Kota Bryansk, yang berada dekat perbatasan Ukraina, menewaskan satu orang dan melukai enam lainnya.

Sementara itu, di wilayah Zaporizhzhia, Ukraina tenggara, yang berada di bawah kendali Rusia, serangan drone terhadap sebuah bus menewaskan satu orang dan melukai 30 orang lainnya, menurut pejabat setempat.

Reuters menyatakan belum dapat memverifikasi secara independen laporan-laporan tersebut. Rusia dan Ukraina sama-sama membantah sengaja menjadikan warga sipil sebagai sasaran serangan.