Saat Asia memerah, IHSG melangkah ke zona hijau



JAKARTA. Berbeda dengan pergerakan bursa Asia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak positif di awal transaksi perdagangan pagi ini (2/12). Data RTI menunjukkan, pada pukul 09.10, indeks mencatatkan kenaikan sebesar 0,3% menjadi 5.213,55.

Kenaikan indeks disokong oleh pergerakan positif 94 saham. Sementara, 50 saham tertekan dan 89 saham lainnya diam di tempat.

Volume transaksi perdagangan pagi ini melibatkan 1,126 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 301,236 miliar.


Di sisi lain, jumlah sektor yang naik dan turun seimbang. Adapun tiga sektor dengan kenaikan terbesar di antaranya: sektor keuangan naik 1,09%, sektor industri lain-lain naik 0,82%, dan sektor agrikultur naik 0,65%.

Saham-saham indeks LQ 45 yang berada di jajaran top gainers di antaranya: PT Hanson International Tbk (MYRX) naik 5,16% menjadi Rp 163, PT United Tractors Tbk (UNTR) naik 2,7% menjadi Rp 22.850, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 2,59% menjadi Rp 14.875.

Sementara, posisi top losers indeks LQ 45 ditempati oleh: PT PP Tbk (PTPP) turun 1,75% menjadi Rp 3.920, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) turun 1,57% menjadi Rp 1.565, dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) turun 1,5% menjadi Rp 655.

Sebagian investor asing masih tampak melepas kepemilikan sahamnya pagi ini. Di seluruh market, nilai net sell asing mencapai Rp 6,4 miliar. Sedangkan di pasar reguler, asing membukukan pembelian bersih (net buy) dengan nilai Rp 21,2 miliar.

Asia memerah

Kondisi sebaliknya terjadi di bursa Asia. Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan, pada pukul 09.22 waktu Tokyo, dari sekitar 50 saham lebih yang turun, hanya ada satu saham yang naik di MSCI Asia Pacific.

Sedangkan berdasarkan data CNBC, indeks ASX 200 Australia turun 0,27%. Sektor industri bahan baku tertekan 0,99% dan sektor finansial turun 0,31%.

Indeks Nikkei 225 Stock Average turun 0,49% pada pembukaan transaksi akibat penguatan yen Jepang.

Adapun indeks Kospi turun 0,37%.

Investor di kawasan regional pada hari ini sepertinya memasang mode 'wait and see' seiring penguatan dollar AS dan dirilisnya data lapangan kerja AS.

"Pergerakan Wall Street yang melemah, referendum Italia, dan dirilisnya data tenaga kerja AS nanti malam memberikan alasan bagi pasar saham untuk ditutup di zona hati-hati pada akhir pekan ini," urai Ric Spooner, chief market analyst CMC Markets.

Di sisi lain, Australia akan mengumumkan data penjualan ritel Oktober.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie