Saat bank kecil kesulitan kejar dana murah



JAKARTA. Bank kecil bekerja lebih keras untuk mengamankan pundi-pundi likuiditas. Tantangan bank kecil kian ketat di segmen perebutan dana murah (CASA) yang terdiri dari tabungan dan giro.

Data terakhir Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, hanya bank besar yang menikmati pertumbuhan dana murah. Per akhir Maret 2017, hanya bank besar yang masuk kategori BUKU IV yang mampu mencetak pertumbuhan CASA double digit atau 21,12%.

Sementara, BUKU I dan BUKU III kesulitan merebut dana murah. CASA bank kecil minus 26,30%. Dari sisi nominal, BUKU III dan BUKU IV menguasai 85,2% dari total dana murah perbankan.


Edy Kuntardjo, Direktur Utama Bank Ina mengakui, perebutan dana murah dengan bank besar semakin sengit.

Hariyono Tjahjarijadi, Direktur Utama Bank Mayapada bilang, strategi untuk meningkatkan dana murah tidak mampu berjalan dengan baik. Karena kebutuhan dana sudah meningkat dan membuat suku bunga berpotensi naik, ujar Hariyono kepada KONTAN, Senin (29/5).

Digital banking

Tahun ini, bank-bank kelas kecil berupaya menggenjot layanan digital banking agar bisa meraup dana murah. Bank Ina misalnya akan meluncurkan fitur mobile banking, internet banking dan akun virtual di akhir 2017. Bank yang dikuasai Salim Group ini juga akan mengembangkan laku pandai.

Kami akan meluncurkan beberapa produk m-banking, internet banking, dan bergabung dengan ATM Prima, ujar Benny Purnomo, Direktur Utama Bank MNC.

Andreas Basuki, Sekretaris Perusahaan Bank CCB Indonesia menyatakan akan meningkatkan dana murah dengan membidik akun korporasi dan menggelar promo tabungan.

Sementara, Iim Wardiman, Direktur Kepatuhan Bank Yudha Bhakti mengatakan, banknya akan menerbitkan kartu debit dan meluncurkan layanan mobile banking untuk memburu CASA.

Selain itu, bank berkode BBYB ini akan mengembangkan jaringan ATM, mengembangkan produk tabungan berhadiah dan bekerja sama dengan vendor layanan gateway. Sampai akhir tahun porsi CASA Bank Yudha Bhakti ditargetkan 50%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie