Saat Investor Kembali Berani Ambil Risiko



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Perlahan tapi pasti, suasana di pasar keuangan global berubah. Setelah berminggu-minggu diliputi ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah yang pecah sejak akhir Februari, investor yang sebelumnya memilih berlindung di aset aman kini mulai keluar dari zona nyaman mereka. Harapan akan meredanya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang ditandai dengan peluang perpanjangan gencatan senjata menjadi katalis utama perubahan arah ini. 

Di ruang-ruang dealing room, arah arus dana mulai bergeser dengan angka yang cukup mencolok. Dalam dua pekan pertama April, investor membukukan pembelian bersih sekitar US$ 500 juta pada obligasi berperingkat BBB. Sebaliknya, dana justru keluar hingga US$ 7,3 miliar dari obligasi dengan peringkat lebih tinggi. Pergeseran ini membuat kinerja obligasi BBB melesat, sekaligus mempersempit selisih imbal hasil (spread) dengan obligasi A ke level terketat sejak sebelum konflik pecah.

Di balik pergeseran ini, ada kombinasi antara harapan dan perhitungan rasional. Harapan bahwa jalur diplomasi akan mampu meredakan konflik, sekaligus keyakinan bahwa perusahaan-perusahaan di lapisan BBB masih cukup tangguh menghadapi gejolak ekonomi.


“Ada nilai di segmen BBB dan para penerbit di kategori tersebut telah mengelola neraca dengan baik serta secara umum meningkatkan kualitas kredit,” ujar Gene Tannuzzo, Global Head of Fixed Income Columbia Threadneedle Investments dalam laporan Bloomberg (19/4).

Baca Juga: SoftBank Bakal Rilis Obligasi, Target Dana US$ 1,5 Miliar dan 1,75 Miliar Euro

Optimisme ini juga ditopang oleh kinerja korporasi yang ternyata lebih baik dari dugaan. Dari 100 perusahaan pertama yang merilis laporan keuangan kuartal I, emiten berperingkat BBB mampu melampaui ekspektasi laba analis hingga 9,3%. Bandingkan dengan perusahaan berperingkat A ke atas yang hanya mencatat 6,2% di atas proyeksi.

Namun, pergeseran selera risiko tidak berhenti di investment grade. Investor juga mulai masuk ke obligasi high yield atau junk bond. Arus dana ke segmen ini mencapai US$ 2,8 miliar dalam sepekan terbesar sejak Juni tahun lalu. Dampaknya, spread obligasi junk menyempit ke kisaran 2,72%, level terendah sejak konflik dimulai.

Di tengah derasnya permintaan, korporasi pun memanfaatkan momentum. Penyedia infrastruktur cloud CoreWeave, misalnya, dalam waktu sepekan mampu menghimpun total US$ 2,75 miliar dari pasar obligasi junk terdiri dari penerbitan awal US$ 1,75 miliar dan tambahan US$ 1 miliar. Secara keseluruhan, penerbit obligasi investment grade di AS bahkan berhasil menggalang hampir US$ 58 miliar hanya dalam satu pekan, melampaui ekspektasi pasar lebih dari 40%.

Meski demikian, seperti biasa, pasar tak pernah bergerak tanpa bayang-bayang risiko. Ketika semakin banyak investor berdesakan masuk ke segmen yang sama, ruang keuntungan mulai menyempit. Spread yang kian tipis menjadi tanda bahwa valuasi sudah semakin mahal.

“Kami melihat BBB sudah mahal,” kata Tony Trzcinka, Investment Grade Portfolio Manager Impax Asset Management.

Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi Jepang Naik Kamis (9/4), Saat Ketidakpastian Gencatan AS-Iran

Selain faktor permintaan, komposisi sektor juga ikut memainkan peran. Perusahaan energi menyumbang sekitar 10% dari indeks obligasi BBB, jauh lebih besar dibandingkan hanya 3% pada kategori A. Di tengah volatilitas harga energi akibat konflik, eksposur ini ikut menopang kinerja obligasi BBB.

Di sisi lain, cerita baru juga muncul dari sektor teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI). Ambisi besar perusahaan untuk menguasai teknologi ini mendorong kebutuhan pendanaan dalam skala jumbo. Oracle, misalnya, telah menerbitkan obligasi hingga US$ 120 miliar untuk membiayai ekspansi di sektor AI.

Tannuzzo mengingatkan, lonjakan utang yang terlalu cepat bisa menjadi risiko tersendiri. Ia justru melihat peluang yang lebih membumi di sektor utilitas, energi, dan telekomunikasi sektor yang cenderung lebih stabil di tengah ketidakpastian.

Senada, Jon Curran dari Principal Asset Management menilai, kunci bertahan di situasi seperti ini adalah disiplin. Bukan sekadar mengejar imbal hasil tinggi, tetapi memilih perusahaan dengan fondasi keuangan yang kuat dan kemampuan menurunkan utang secara bertahap.

Di tengah tarik-menarik antara optimisme dan kewaspadaan, pasar obligasi tetap bergerak dinamis. Bahkan di segmen kredit swasta, dana kembali mengalir. Pekan ini, dana kredit swasta milik Goldman Sachs berhasil menghimpun US$ 750 juta, sementara Blue Owl meraih US$ 400 juta dari pasar obligasi AS, menandai kembalinya kepercayaan investor setelah sempat terhenti sejak Februari.

Meski demikian, kehati-hatian belum sepenuhnya hilang. Bank-bank besar AS tercatat memiliki eksposur lebih dari US$ 185 miliar ke kredit swasta, angka yang cukup besar untuk terus menjadi perhatian pasar.

“Permintaan mampu mengimbangi tingginya penerbitan, dengan pasar menyerap suplai secara tertib,” ujar Curran.

Pada akhirnya, kisah ini bukan sekadar tentang obligasi BBB atau pergeseran portofolio. Ini adalah gambaran bagaimana pasar merespons ketidakpastian, yakni bergerak maju dengan harapan, namun tetap menakar risiko dengan cermat. Karena di dunia investasi, keberanian mengambil risiko sering kali datang bersamaan dengan kesadaran bahwa arah angin bisa berubah sewaktu-waktu.

Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi Jepang Tembus Rekor Tertinggi Baru Sejak 1999

TAG: