KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah terus mematangkan kesiapan penyelenggaraan ibadah haji 2026 di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah yang masih bergejolak. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menegaskan telah menyiapkan berbagai skenario mitigasi guna menjamin keamanan dan keselamatan jemaah asal Indonesia. Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan), menyatakan, dirinya bersama Wakil Menhaj, Dahnil Anzar Simanjuntak, telah berkonsultasi langsung dengan Presiden terkait situasi ini. Menurutnya, aspek keselamatan jemaah menjadi prioritas.
"Arahan beliau, apapun yang terjadi, bagaimana situasinya, tentu pertimbangan utama adalah keselamatan dan keamanan jamaah haji kita. Karena itu, walaupun sampai hari ini kita persiapan sudah selesai semua, kita selalu berkoordinasi dengan teman-teman Kementerian Haji di Saudi," ujarnya dalam Haji Outlook 2026 di Studio 1 Kompas TV, Jakarta, Selasa (31/3/2026). Gus Irfan menambahkan, Kemenhaj juga menjalin koordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri untuk menyiapkan berbagai mitigasi yang diperlukan. Saat ini, pemerintah telah memetakan tiga skenario utama dalam pemberangkatan jemaah haji tahun ini.
Baca Juga: Persiapan Haji di 2026 On Track, Kemenhaj Jamin Layanan Aman dan Bebas Penyimpangan Skenario pertama adalah kondisi ideal di mana situasi dinyatakan aman sehingga seluruh jemaah dapat berangkat dan pulang sesuai jadwal normal. Namun, pemerintah juga menyiapkan skenario kedua dan ketiga sebagai langkah antisipasi jika eskalasi konflik memburuk. "Ada skenario kedua, di mana mungkin tidak semua berangkat. Mudah-mudahan juga tidak perlu terjadi. Dan skenario yang ketiga adalah kita tetap berangkat semua, tapi jalur atau perjalanannya berbeda. Agak memutar sedikit," jelasnya. Ia mengakui, skenario pengalihan rute penerbangan akan berdampak pada durasi perjalanan. Jika biasanya penerbangan memakan waktu 9 jam, rute memutar bisa menambah waktu tempuh sekitar 4 jam lebih lama yang berpotensi meningkatkan kelelahan jemaah serta membengkaknya biaya operasional.
Baca Juga: Persiapan Haji 2026 Hampir 100%, Kemenhaj Tekankan Transparansi "Dan yang lebih kita perhatikan juga, dengan penambahan waktu penerbangan tentu biaya akan meningkat. Tapi semuanya sudah kita persiapkan,mudah-mudahan situasi tetap berjalan seperti semula," imbuhnya.
Terkait dengan kebutuhan armada, Gus Irfan juga menyinggung soal kesiapan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dalam menambah unit pesawat. Ia menekankan, penyediaan armada tambahan memerlukan waktu yang tidak sebentar karena melibatkan proses sewa dari luar negeri. "Sementara untuk penerbangan haji reguler kita sendiri, Garuda juga harus menyewa dari tempat lain, dari luar negeri, sehingga kalau toh harus mencari tambahan tentu harus dari jauh-jauh hari, karena menyewa pesawat tidak semudah menyewa taksi," pungkasnya.
Baca Juga: Kemenhaj Fasilitasi 45 Klinik Kesehatan di Makkah dan Madinah untuk Jamaah Haji Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News