JAKARTA. Daya saing Indonesia menghadapi persaingan di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dinilai masih rendah, khususnya di sektor supply chain. Kyatmaja Lookman, pencetus Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) bilang di Indonesia masih kekurangan tenaga ahli yang mengenyam pendidikan supply chain management. "Di China sampai tahun lalu sudah punya 300.000 orang lulusan supply chain management, Indonesia tidak sampai 100.000," kata Kyatmaja, Kamis (7/1). Jurusan ini, menurutnya, memang masih belum populer sehingga belum banyak orang melirik berkarir di industri logistik dan supply chain. Padahal, kata dia, potensinya sangat besar. Apalagi di era MEA, akan banyak produsen ingin mendistribusikan produknya ke Indonesia. Saat ini di Indonesia hanya ada tiga kampus yang membuka jurusan supply chain management. Mereka adalah Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Surabaya, dan Universitas Indonesia. "Tapi jumlah lulusannya tidak banyak, karena jurusan ini tidak popular," kata Kyatmaja lagi. Padahal kata dia, semakin banyak lulusan supply chain, akan meningkatkan daya saing sektor bisnis ini. Sebab, perlu ada pengetahuan dalam melakukan proses kolaborasi dan koordinasi. Pengetahuan untuk bisa berkolaborasi dan berkoordinasi ini akan mempengaruhi kebijakan pemerintah. Terlebih jika semakin banyak sumber daya manusia berlatar belakang pendidikan supply chain management yang masuk sebagai pemangku kebijakan. Sebab banyak kebijakan yang belum berpihak pada bisnis ini. Misalnya, kebijakan penggunaan jalan tol beberapa waktu lalu. Ketika kemacetan melanda jalan tol saat libur panjang, pemerintah menghentikan proses pengiriman barang. Padahal hal tersebut akan berpengaruh terhadap daya saing sektor ini. "Di negara lain seperti Singapura dan Thailand, pengiriman barang bisa dilakukan selama 24 jam dalam 7 hari, sedangkan pemerintah kita justru punya wacana mengurangi jam operasional truk di jalan tol lingkar luar selatan seperti di ruas tol Cawang dulu, hanya boleh jam 10 malam sampai jam 5 pagi saja," ujarnya mencontohkan. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Saat MEA, Indonesia kekurangan tenaga supply chain
JAKARTA. Daya saing Indonesia menghadapi persaingan di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dinilai masih rendah, khususnya di sektor supply chain. Kyatmaja Lookman, pencetus Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) bilang di Indonesia masih kekurangan tenaga ahli yang mengenyam pendidikan supply chain management. "Di China sampai tahun lalu sudah punya 300.000 orang lulusan supply chain management, Indonesia tidak sampai 100.000," kata Kyatmaja, Kamis (7/1). Jurusan ini, menurutnya, memang masih belum populer sehingga belum banyak orang melirik berkarir di industri logistik dan supply chain. Padahal, kata dia, potensinya sangat besar. Apalagi di era MEA, akan banyak produsen ingin mendistribusikan produknya ke Indonesia. Saat ini di Indonesia hanya ada tiga kampus yang membuka jurusan supply chain management. Mereka adalah Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Surabaya, dan Universitas Indonesia. "Tapi jumlah lulusannya tidak banyak, karena jurusan ini tidak popular," kata Kyatmaja lagi. Padahal kata dia, semakin banyak lulusan supply chain, akan meningkatkan daya saing sektor bisnis ini. Sebab, perlu ada pengetahuan dalam melakukan proses kolaborasi dan koordinasi. Pengetahuan untuk bisa berkolaborasi dan berkoordinasi ini akan mempengaruhi kebijakan pemerintah. Terlebih jika semakin banyak sumber daya manusia berlatar belakang pendidikan supply chain management yang masuk sebagai pemangku kebijakan. Sebab banyak kebijakan yang belum berpihak pada bisnis ini. Misalnya, kebijakan penggunaan jalan tol beberapa waktu lalu. Ketika kemacetan melanda jalan tol saat libur panjang, pemerintah menghentikan proses pengiriman barang. Padahal hal tersebut akan berpengaruh terhadap daya saing sektor ini. "Di negara lain seperti Singapura dan Thailand, pengiriman barang bisa dilakukan selama 24 jam dalam 7 hari, sedangkan pemerintah kita justru punya wacana mengurangi jam operasional truk di jalan tol lingkar luar selatan seperti di ruas tol Cawang dulu, hanya boleh jam 10 malam sampai jam 5 pagi saja," ujarnya mencontohkan. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News