KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan investasi reksadana di platform digital masih berlanjut, meski sempat melambat pada Maret 2026 seiring kondisi pasar yang bergejolak. Direktur Utama PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur), Sander Parwira menilai perlambatan tersebut bersifat sementara dan tidak mengubah prospek jangka panjang industri reksadana. "Kalau di bulan Maret itu
growth kita melambat tapi masih ada
growth kok," ujar Sander kepada Kontan, Senin (27/4/2026).
Baca Juga: Pasar Saham dalam Fase Konsolidasi, Ini Strategi Investasi yang Tepat Ia menekankan, reksadana merupakan instrumen investasi jangka panjang sehingga investor sebaiknya tidak reaktif terhadap penurunan pasar jangka pendek. Sehingga, saat kondisi pasar sedang terkoreksi justru dapat menjadi peluang bagi investor untuk akumulasi unit reksadana dengan harga lebih rendah selama tetap sesuai dengan profil risiko masing-masing. "
Market lagi turun kita bisa dapat unit reksadana lebih banyak. Jadi lebih untung juga dalam jangka panjang," katanya. Ia membagi strategi investasi berdasarkan profil risiko. Untuk investor konservatif, disarankan tetap berinvestasi pada instrumen berisiko rendah seperti reksadana pasar uang atau pendapatan tetap. Sementara itu, bagi investor dengan profil agresif dan horizon investasi jangka panjang, kondisi pasar yang sedang turun dapat dimanfaatkan untuk masuk secara bertahap melalui strategi
dollar cost averaging (DCA). Ia mengingatkan agar investor tidak menginvestasikan dana sekaligus dalam satu waktu, melainkan bertahap agar tetap memiliki ruang saat harga kembali turun. "Jangan langsung dihajar kalau makin turun nanti sudah tidak ada peluru lagi gitu," kata Sander.
Baca Juga: IHSG dan Rupiah Kompak Melemah, Begini Alokasi Aset yang Disarankan Dari sisi prospek, Sander optimis industri reksadana di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Hal ini tercermin dari rasio dana kelolaan (asset under management/AUM) industri investasi baru 4% dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang masih relatif rendah dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia yang mencatat 36% dan Thailand 30% dari PDB. "Untuk Indonesia masih yang paling rendah, jauh lebih rendah dibandingkan tetangga-tetangga. Jadi
opportunity untuk
growth-nya tuh menurut saya masih sangat besar," tutupnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News