Saat Risiko Global Meningkat, Emas Malah Terkoreksi, Ini Penyebabnya!



KONTAN.CO.ID - Emas memperpanjang penurunannya pada Selasa (21/4/2026) karena dolar AS yang lebih kuat dan kenaikan imbal hasil (yield) menekan harga. Sementara, investor menunggu hasil pembicaraan awal AS–Iran serta sidang konfirmasi calon Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh.

Data Reuters menunjukkan, harga emas spot turun 2,2% menjadi US$ 4.712,04 per ons pada pukul 13:46 waktu EDT (17:46 GMT), level terendah dalam lebih dari satu minggu. Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni ditutup turun 2,3% ke US$ 4.719,60.

Dolar AS menguat 0,2% terhadap mata uang utama lainnya, membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga naik.


“Imbal hasil yang lebih kuat dan dolar yang lebih tinggi menekan emas, ditambah banyaknya berita dan sinyal yang bercampur mengenai situasi Iran yang mendorong harga energi naik, sehingga memberi tekanan pada logam,” kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.

Presiden Donald Trump pada Selasa mengatakan ia tidak ingin memperpanjang gencatan senjata yang akan berakhir dengan Iran, dan menyebut militer AS “siap bergerak” jika negosiasi gagal. Pernyataan ini mendorong harga minyak naik lebih dari 3%.

Lonjakan harga minyak terjadi setelah AS dan Israel meluncurkan perang terhadap Iran pada 28 Februari memicu kekhawatiran lonjakan inflasi, sehingga mengurangi prospek pemangkasan suku bunga.

Baca Juga: Harga Minyak Meroket: Perundingan Iran-AS Terancam Gagal, Pasokan Dunia Goyang

Meskipun emas biasanya dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, aset yang tidak memberikan imbal hasil ini cenderung melemah ketika suku bunga tinggi.

Sementara itu, investor juga fokus pada sidang Komite Perbankan Senat terkait pencalonan mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed.

Warsh menyerukan “perubahan rezim” di bank sentral AS, termasuk pendekatan baru untuk mengendalikan inflasi dan reformasi komunikasi yang mungkin membuat pejabat The Fed lebih berhati-hati dalam memberikan sinyal arah kebijakan moneter.

“Trader akan sangat memperhatikan dan mendengarkan komentar (Warsh). Dengan sidang ini, Anda harus mengharapkan banyak volatilitas naik-turun,” tambah Haberkorn.

Tonton: Selat Hormuz Ditutup Lagi! Harga Minyak Dunia Langsung Melejit Lebih dari 7%

Di pasar logam mulia lainnya, perak spot turun 3,9% menjadi US$76,76 per ons, platinum turun 2,7% ke US$2.033,37, sementara palladium melemah 0,6% ke US$1.541,56.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News