Saat rupiah masih tertekan efek Trump



JAKARTA. Efek Donald Trump di pasar valuta asing agaknya sudah tidak terlalu besar lagi. Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) tidak terlalu banyak berubah dibanding posisi penutupan hari sebelumnya.

Kemarin (14/11), kurs tengah rupiah versi Bank Indonesia tercatat melemah 0,06% menjadi Rp 13.358 per dollar AS. Sedangkan kurs spot rupiah naik 0,06% menjadi Rp 13.375 per dollar AS.

Meski begitu, para pakar menyarankan agar pelaku pasar tetap berhati-hati. Peluang rupiah kembali melemah masih terbuka.


Analis Esandar Arthamas Berjangka Tonny Mariano menyebut potensi kenaikan dollar AS cukup kuat. "Di dalam negeri saya lihat ada capital outflow karena kekhawatiran atas kemenangan Trump," ujar dia.

Pelaku pasar belakangan berspekulasi, Trump bakal menggenjot ekonomi AS antara lain dengan mendorong inflasi. Alhasil, indikasi kenaikan suku bunga The Fed pun makin kuat.

David Sumual, Ekonom Bank Central Asia (BCA) bilang, rencana pengetatan moneter AS dalam bentuk kenaikan suku bunga tersebut membuat banyak dana keluar dari emerging market.

"Sebenarnya kalau dari dalam negeri, rupiah masih ditopang rilis defisit neraca transaksi berjalan yang lebih baik dari kuartal sebelumnya," papar dia.

Para analis menilai efek Trump dan kekhawatiran pelaku pasar atas kepastian kenaikan suku bunga The Fed masih akan mewarnai pergerakan rupiah hari ini.

Sementara dari dalam negeri ada sentimen pengumuman neraca perdagangan bulan Oktober. Tonny memprediksi hari ini rupiah masih melemah dengan rentang pergerakan terbatas.

Menurut analisa Tonny, rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 13.340–Rp 13.420 per dollar AS.

Sementara menurut hitungan David, rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp 13.200–Rp 13.400 per dollar AS. Tetapi ia sepakat, hari ini pergerakan rupiah tidak akan sevolatil pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie