Saatnya koleksi reksadana pendapatan tetap



JAKARTA. Kondisi pasar modal yang belum pulih menjadi kesempatan bagi investor ritel menambah kepemilikan unit penyertaan reksadana pendapatan tetap. Reksadana jenis ini dianggap paling menarik dilihat dari potensi kenaikan aset dasarnya. Fund Manager AAA Asset Management, Siswa Rizali mengatakan, dalam berinvestasi investor harus melihat kondisi fundamental dari aset dasar instrumen tersebut. Dalam kaitannya dengan reksadana pedapatan tetap, kondisi fundamental Surat Utang Negara (SUN) yakni ekonomi Indonesia sendiri masih sangat baik. “Contohnya beban utang Indonesia di bawah 30% dari Produk Domestik Bruto sedangkan negara lain seperti Malaysia dan India misalnya mencapai 50%,” papar Rizal. Ia menambahkan SUN Malaysia bahkan hanya menawarkan yield sebesar 4% untuk tenor 10 tahun. Beda dua kali lipat dengan kondisi yield SUN Indonesia saat ini yang sekitar 8%. “Itu berarti penurunan yield kita masih cukup lebar karena beban utang kita lebih kecil ketimbang Malaysia. Artinya saat ini SUN sangat menarik dari segi valuasi harga,” tambahnya. Potensi penurunan ini juga didukung oleh kebijakan jangka panjang pemerintah yang memotong subsidi bahan bakar minya dan mengalokasikan dana bagi sektor produktif seperti kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. Maka dengan fundamental Indonesia yang baik, menurutnya saat ini investor sebaiknya mengakumulasi pembelian unit penyertaan reksadana pendapatan tetap yang strategi portofolionya mayoritas di SUN. Sementara peluang di pasar saham khususnya reksadana saham juga masih terbuka lebar. Namun, “dari segi valuasi tidak semenarik SUN,” ujar Rizal. Menurutnya secara umum kondisi harga-harga saham saat ini cenderung tidak murah namun juga tidak mahal, sesuai dengan kondisi fundamental emiten. Ia juga menyarankan agar investor berinvestasi secara berkala di reksadana pendapatan tetap. Jika ada peluang, investor bisa lebih agresif masuk jika yield masih cenderung naik. “Misalnya, jika investor biasanya mengalokasikan dana 10% dari pendapatan bulanan untuk reksadana pendapatan tetap, maka porsi tersebut bisa dinaikkan menjadi 20% saat yield tengah tinggi,” sarannya. Senior Fund Manager BNI Asset Management Hanif Mantiq juga mengatakan saat ini reksadana pendapatan tetap menjadi instrumen menarik untuk investasi berkala. Menurutnya dengan kondisi sekarang setidaknya potensi imbal hasil reksadana pendapatan tetap masih dapat mengalahkan laju inflasi, dengan risiko minim dibanding reksadana saham. Ia menyarankan agar investor memantau laju inflasi sehingga saat inflasi cenderung turun, alokasi investasi di reksadana pendapatan tetap bisa dinaikkan. Tambahnya, reksadana pasar uang juga bisa jadi pilihan investasi di tengah belum pulihnya kondisi pasar modal. Namun di satu sisi, menurut Hanif, imbal hasil reksadana pasar uang sulit mengalahkan inflasi. “Reksadana pasar uang cocok untuk investor jangka pendek yang enggan menanggung risiko fluktuasi dan cenderung tidak mementingkan tingkat imbal hasil,” ujar Hanif. Ia memperkirakan akhir tahun 2015 yeild SUN tenor 10 tahun bisa kembali ke level 7,25%. “Ini berarti SUN sebagai aset dasar reksadana pendapatan tetap masih menyimpak ruang penguatan harga yang cukup lebar hingga akhir tahun,” tambah Hanif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Uji Agung Santosa