KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran belum sepenuhnya mendorong lonjakan harga emas. Di tengah statusnya sebagai aset safe haven, pergerakan emas justru cenderung tertahan dan bergerak lesu. Melansir Trading Economic pada hari Jumat (24/4/2026) pukul 14.30 WIB, harga emas di pasar spot melorot 3,3% dalam seminggu menjadi US$ 4.675 per ons troi. Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menjelaskan, kondisi ini terjadi karena konflik tersebut menciptakan dampak yang berlawanan bagi pasar emas.
Di satu sisi, meningkatnya ketidakpastian global mendorong permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Namun di sisi lain, lonjakan harga minyak akibat gangguan di Selat Hormuz justru menekan harga emas.
Baca Juga: Merdeka Gold Resources (EMAS) Rombak Direksi dan Komisaris, Ini Daftar Namanya “Secara teori, konflik seharusnya mendorong harga emas naik. Tapi kenaikan harga minyak memicu inflasi global, sehingga pasar memperkirakan suku bunga akan tetap tinggi lebih lama,” ujar Wahyu kepada Kontan, Kamis (23/4/2026). Harga minyak mentah Brent yang mendekati kisaran US$ 95 - IS$ 110 per barel dinilai menjadi pemicu utama kenaikan inflasi global. Kondisi ini membuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS atau Federal Reserve semakin memudar. Menurut Wahyu, suku bunga tinggi meningkatkan
opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Akibatnya, investor cenderung beralih ke aset berbunga seperti dolar AS dan obligasi. Hal ini tercermin dari penguatan indeks dolar AS (DXY) yang bertahan di kisaran 98-99 beberapa waktu terakhir. “Saat ini fokus investor bukan hanya mencari keamanan, tetapi juga imbal hasil. Dolar menjadi lebih menarik dibandingkan emas dalam kondisi seperti ini,” jelasnya. Selain itu, tekanan terhadap harga emas juga datang dari aksi likuidasi di pasar global. Gejolak di pasar saham, khususnya di Wall Street, mendorong investor melepas sebagian kepemilikan emas untuk menutup kerugian atau menjaga likuiditas portofolio. Dari sisi geopolitik, situasi terbaru menunjukkan kegagalan pembicaraan diplomatik antara AS dan Iran, serta aksi penyitaan kapal kargo yang kembali memicu penutupan Selat Hormuz. Kondisi ini sempat meredam optimisme pasar terhadap potensi de-eskalasi konflik. Meski demikian, Wahyu melihat pasar mulai mengantisipasi bahwa dampak terburuk dari konflik tersebut telah tercermin dalam harga
(priced in). Hal ini membuat pergerakan emas cenderung stabil meski harga minyak masih tinggi.
Ia menjelaskan, saat ini harga emas berada dalam tekanan dua sentimen besar. Sentimen geopolitik berperan sebagai penopang yang menahan penurunan harga, sementara ekspektasi suku bunga tinggi dari The Fed menjadi faktor penahan kenaikan harga. “Emas saat ini terjepit di antara dua kekuatan, yaitu sentimen perang dan kebijakan suku bunga. Hasilnya, pergerakan menjadi konsolidatif dan volatil dalam rentang terbatas,” pungkas Wahyu.
Baca Juga: Investor Singapura Mau Caplok Saham Hassana Boga (NAYZ) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News