Saham AI Anjlok, Nasdaq Tertekan di Tengah Kekhawatiran Perlambatan AI



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street melemah pada perdagangan Senin (14/9/2026), dengan Nasdaq menjadi indeks yang paling tertekan setelah saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI), terutama Nvidia dan perusahaan semikonduktor, mengalami aksi jual.

Tekanan muncul setelah sejumlah petinggi perusahaan AI mulai menyerukan perlambatan pengembangan model AI karena meningkatnya risiko keselamatan. 

Sentimen tersebut memicu kekhawatiran bahwa euforia terhadap industri AI mulai mereda setelah beberapa tahun menjadi salah satu penggerak utama kenaikan saham teknologi dan pasar Amerika Serikat.


Baca Juga: Indeks Nikkei Ditutup Anjlok 1,92%: Investor Waspadai Konflik Timur Tengah

Pada pukul 09.45 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average turun 126,58 poin atau 0,24% menjadi 52.446,71. S&P 500 melemah 48,23 poin atau 0,64% ke 7.608,28, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 268,13 poin atau 1,02% menjadi 26.064,91.

Nvidia menjadi salah satu saham yang paling terpukul dengan penurunan 3,2% dan menyentuh level terendah dalam hampir tiga pekan. Saham Amazon juga turun sekitar 1%.

Penurunan lebih tajam terjadi pada sektor semikonduktor. Saham Intel anjlok 5,6%, AMD turun 5%, sedangkan Marvell Technology merosot 6,3%.

Indeks Philadelphia Semiconductor atau SOX turun sekitar 6% dan berpotensi mencatat penurunan harian terburuk sejak 1 Juli apabila pelemahan bertahan hingga penutupan.

Sentimen negatif tersebut muncul setelah CEO Anthropic Dario Amodei menyerukan perusahaan AI memperlambat laju peningkatan kemampuan model. Seruan itu mendapat dukungan dari CEO OpenAI Sam Altman dan Elon Musk yang memimpin xAI.

Baca Juga: SK Hynix Anjlok Setelah Debut Nasdaq di Tengah Berkurangnya Optimisme Pendapatan

"Ini kemungkinan lebih merupakan gangguan bagi saham AI ketimbang pembuka mata," kata Dennis Dick, pendiri sekaligus analis struktur pasar Triple D Trading.

Di tengah tekanan saham AI, sejumlah saham perangkat lunak justru menguat. ServiceNow naik 3,8%, Adobe 3,6% dan Workday 3,2%. Saham Meta Platforms dan Alphabet juga masing-masing naik sekitar 2%.

Investor mulai mengalihkan perhatian ke sektor yang dinilai lebih defensif. Sektor kesehatan dan barang konsumsi primer masing-masing menguat sekitar 1%, sementara sektor teknologi menjadi kelompok dengan kinerja terburuk dengan penurunan sekitar 0,5%.

Tekanan di pasar saham juga datang menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve pada pekan ini. Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed mencapai hampir 89%.

Ekspektasi tersebut menguat setelah data inflasi Amerika Serikat pekan lalu menunjukkan tekanan harga kembali meningkat. Di saat yang sama, kenaikan harga minyak menambah risiko terhadap inflasi.

Baca Juga: Indeks Nikkei Ditutup ke Level Terendah Hampir 4 Minggu Terseret Saham Teknologi

Harga minyak Brent naik sekitar 4% menjadi US$108,83 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 3% ke US$103,88 per barel.

Luasnya tekanan pasar terlihat dari jumlah saham yang turun lebih banyak dibandingkan saham yang naik. Di New York Stock Exchange (NYSE), rasio saham turun terhadap saham naik mencapai 1,32 banding 1, sedangkan di Nasdaq sebesar 1,2 banding 1.

Nasdaq mencatat 21 saham yang mencapai level tertinggi dalam 52 pekan, tetapi terdapat 94 saham yang mencetak level terendah baru. Di S&P 500, terdapat tujuh saham yang mencatat level tertinggi baru dan tiga saham mencapai level terendah baru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News