Saham AI Berguguran, Investor Khawatir Biaya Modal Naik dan Belanja Melambat



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Gelombang aksi jual saham pemasok kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pada Selasa (13/10/2026) menjadi sinyal kuat bahwa sentimen investor terhadap sektor yang selama ini menjadi primadona pasar mulai berubah.

Kekhawatiran meningkatnya suku bunga dinilai dapat menghambat lonjakan belanja infrastruktur AI yang skalanya bahkan lebih besar dibandingkan ledakan pembangunan jaringan kereta api bersejarah di Amerika Serikat.

Hampir empat tahun sejak peluncuran ChatGPT milik OpenAI, aliran modal terus mengalir ke perusahaan semikonduktor, pemilik pusat data, perusahaan kabel, serta berbagai bisnis yang memperoleh pendapatan dari perlombaan pembangunan infrastruktur komputasi.


Namun, tanda-tanda keretakan pada investasi tersebut, yang mulai terlihat sejak Juni lalu, kini semakin meluas ke berbagai pasar. Penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) operator pusat data di Australia bahkan gagal dilanjutkan pekan lalu, sementara investor pasar kredit mulai lebih selektif dalam membiayai utang perusahaan-perusahaan AI.

Baca Juga: Jaksa Filipina Cabut Tiga Dakwaan Pemakzulan terhadap Wapres Sara Duterte

Di Asia, aksi jual saham produsen cip Korea Selatan berlanjut selama lima hari berturut-turut pada Selasa. Tekanan jual meningkat tajam sehingga indeks KOSPI anjlok lebih dari 6%. Di Tokyo, saham produsen memori Kioxia juga merosot 13% dan menjadi salah satu penekan utama saham-saham terkait AI.

Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak saham-saham sejenis mengalami kejatuhan pada akhir Juli. KOSPI mencatat tren penurunan terpanjang dalam lebih dari dua tahun dan telah terkoreksi sekitar seperempat dari level tertingginya pada Juli. Sementara itu, indeks STAR Market Shanghai yang berfokus pada perusahaan teknologi telah kehilangan lebih dari sepertiga nilainya dari puncak pada Juli.

“Perkembangan terpenting bukan hanya kenaikan imbal hasil obligasi, tetapi juga volatilitas di pasar obligasi. Kondisi tersebut mulai merambat ke penilaian harga aset di berbagai pasar,” kata Damien Boey, ahli strategi portofolio di Wilson Asset Management, Sydney.

“Situasi ini sangat tidak nyaman dari berbagai sisi. Bisa jadi belanja modal AI hanya sedikit mereda, dan mungkin ada beberapa pelaku pasar yang menjadi korban dari kondisi tersebut,” ujarnya.

Di Amerika Serikat, indeks semikonduktor Philadelphia Stock Exchange Semiconductor Index (SOX) turun 2,7% pada Senin (12/10/2026). Tekanan jual yang lebih besar turut menyeret saham produsen cip Korea Selatan, Samsung Electronics dan SK Hynix, masing-masing turun 10% dan 8%.

Pada Senin, unit riset BlackRock, perusahaan manajemen aset terbesar di dunia, menurunkan prospek saham AS menjadi netral. Langkah tersebut diambil dengan mempertimbangkan “potensi volatilitas seputar pembangunan infrastruktur AI”. BlackRock juga mengubah pandangannya menjadi positif terhadap surat utang pemerintah AS atau US Treasury berjangka pendek.

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) pada Selasa memperingatkan bahwa “dampak koreksi AI dapat meluas ke seluruh dunia” dalam laporan stabilitas keuangan terbarunya.

Baca Juga: Dolar AS Melemah dari Level Tertinggi 18 Bulan, Pasar Cermati Arah The Fed

IMF mengakui kontribusi AI terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun, lembaga tersebut menyebut semakin banyak bukti bahwa investasi untuk mengembangkan kemampuan AI dan manfaat ekonomi yang dihasilkan mungkin tidak sebesar ekspektasi pasar.

Biaya Modal Menjadi Sorotan Investor

Kehati-hatian investor juga mulai terasa di pasar penerbitan saham perdana dan penghimpunan modal baru.

Pekan lalu, Firmus, operator pusat data yang didukung Nvidia, menunda rencana IPO senilai US$ 5 miliar di Australia setelah minat investor menyusut. Peristiwa tersebut memperlihatkan betapa cepatnya risiko menjadi pertimbangan utama dalam keputusan investasi di sektor AI.

Pada Selasa, penerbitan obligasi berdenominasi dolar AS dan dim sum bonds oleh Tencent Holdings di Hong Kong turut menjadi perhatian pelaku pasar utang. Untuk obligasi dolar AS bertenor 10 tahun, panduan imbal hasilnya berada sekitar 1,15 poin persentase di atas imbal hasil US Treasury yang mencapai 5,2%.

Sementara itu, SoftBank, investor teknologi asal Jepang, pada bulan lalu menerbitkan obligasi berimbal hasil tinggi dalam jumlah terbesar yang pernah ada. Perusahaan tersebut bersedia membayar bunga hingga 9,75% untuk pendanaan sebesar US$ 4,5 miliar dengan tenor 7,5 tahun.

Perubahan sentimen ini juga menjadi topik utama dalam sejumlah konferensi keuangan besar di Singapura. Pada Senin, CEO Broadcom menyebut ketersediaan modal sebagai hambatan terbesar bagi pertumbuhan teknologi yang didorong oleh AI.

Baca Juga: Kospi Anjlok 5,5% Selasa (13/10), Kekhawatiran Chip AI China Guncang Bursa Asia

Meski demikian, belum banyak investor yang menganggap prospek investasi AI telah berakhir. Pada Senin, saham Meta Platforms justru naik 3,4% setelah perusahaan tersebut meluncurkan model AI baru.

Kendati demikian, saham semikonduktor mulai dipandang sebagai indikator penting untuk membaca perubahan sentimen investor terhadap sektor AI secara keseluruhan.

Marc Velan, kepala investasi Lucerne Asset Management di Singapura, menilai aksi jual tajam di Korea Selatan lebih mencerminkan posisi investasi pelaku pasar dan meningkatnya biaya modal daripada memburuknya permintaan AI secara fundamental.

“Saya menduga kita sedang memasuki fase berikutnya dari siklus AI, ketika pasar semakin berfokus pada monetisasi dan tingkat pengembalian atas modal yang diinvestasikan. Saya tidak akan menyebut kondisi ini sebagai akhir dari investasi AI,” kata Velan.

“Namun, Korea Selatan bisa menjadi peringatan dini akan terjadinya penyesuaian yang lebih luas di pasar,” tambahnya.